Melihat ketepatan Kenaikan Tarif PPh Impor dengan Kacamata Laffer Curve dan efeknya pada pemulihan Shortfall Penerimaan Pajak Indonesia

2018_11_09-14_32_49_7777605139852f258a599268747e0bbb_960x640_thumb

Penerimaan pajak masih meleset dari target pemerintah yang dicanangkan pada tahun 2018. Data sementara Kementerian Keuangan menunjukkan kantong pajak hanya terisi Rp1.315,9 triliun atau 92,4 persen dari target Rp1.424 triliun hingga tutup tahun 2018. Hal ini membuat Indonesia kembali mengalami shortfall atau tak pernah mencapai target penerimaan pajak selama 10 tahun berturut-turut. Capaian penerimaan pajak Indonesia yang melampaui target, hanya terjadi pada 2008 dengan realisasi sebesar Rp571 triliun atau 106,7% dari target Rp535 triliun. Kinerja penerimaan pajak 2018 juga hanya berada di angka 13,2 persen secara year on year. Hal ini membuat beban pertumbuhan penerimaan negara pada 2019 membengkak, yakni pada kisaran 20 persen. Shortfall tahun 2018 disebabkan oleh capaian pajak non-migas yang hanya sebesar 90,3 persen atau Rp1.251,2 triliun dari target APBN sebesar Rp1.385,9 triliun. Realisasi PPh non-migas masih berada pada angka 84,1 persen dari target Rp817triliun, meski angka pertumbuhannya lebih baik, yakni dari 5,3 persen (2017) menjadi 15,1 persen pada 2018. Pertumbuhan pajak pertambahaan nilai (PPn) bahkan hanya mencapai 11,9 persen atau lebih rendah dari tahun sebelumnya yang berada di angka 16,6 persen. Secara target, realisasinya jauh lebih baik dibandingkan PPh non-migas, yakni di angka 99,3 persen atau sebesar Rp538,2 triliun.

lfcurveq.jpg

Upaya pencapaian target yang dilakukan oleh DJP dilakukan dengan langkah penetapan  kebijakan baru atas tarif suatu objek, baik itu menaikkan atau menurunkan yang semata- mata tujuannya hanya satu yaitu menjaga stabilitas prospek potensi penerimaan dari objek tersebut, penerapan kebijakan ini dapat berdampak secara langsung (budgetair) atau tidak (regulerend).  Pemerintah sendiri melalui Menteri Keuangan menaikkan tarif PPh Impor terhadap sejumlah barang. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.010/2018 yang merupakan perubahan dari peraturan sebelumnya yaitu PMK Nomor 34/PMK.010/2017 tentang Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 Sehubungan dengan Pembayaran atas Penyerahan Barang dan Kegiatan di Bidang Impor atau Kegiatan Usaha Bidang Lain. Peraturan yang diundangkan tanggal 7 September 2018 lalu itu dan mulai berlaku tujuh hari sejak diundangkan itu, mengatur kenaikan tarif PPh Pasal 22 Impor terhadap 1.147 jenis barang. Persentase kenaikan tarif tersebut berbeda-beda, yakni sebesar 2.5%, 5%, dan 7,5%. Barang-barang yang mengalami kenaikan 2,5% yaitu dari 7,5% menjadi 10%, merupakan komoditas barang mewah seperti mobil impor utuh atau completely built-up(CBU) dan motor besar. Ada sebanyak 210 jenis barang yang mengalami kenaikan 2,5% ini. Sementara terdapat 719 komoditas yang kenaikannya 5% (semula 2,5% naik menjadi 7,5%). Contohnya adalah barang-barang seperti keramik, ban, peralatan elektronik audio-visual (kabel dan box speaker), serta produk tekstil (overcoat, polo shirt, swim wear). Sedangkan barang komoditas yang yang kenaikannya 7,5% (dari 2,5% menjadi 10%) adalah produk konsumsi yang sebagian besar dapat disubstitusi oleh produk lokal, semisal barang elektronik semacam dispenser air, pendingin ruangan, lampu, keperluan sehari-hari berupa sabun, kosmetik, serta berbagai peralatan dapur. Ada sebanyak 218 komoditas yang masuk jenis ini.

Sesuai dengan namanya, Pajak Penghasilan (PPh) merupakan pajak yang dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh, baik oleh orang pribadi maupun badan. Sistem pengenaan PPh ini dapat dilakukan dengan dua cara, yakni melalui cara pembayaran sendiri dan dengan cara pemotongan atau pemungutan melalui pihak lain (withholding tax system). PPh yang dipotong atau dipungut oleh pihak lain dalam tahun berjalan, bagi pihak yang dipotong/dipungut pada umumnya merupakan kredit pajak atau deposit pajak. Artinya, pada akhir tahun nanti PPh yang dipotong/dipungut ini dapat mengurangi beban pajak atas penghasilan satu tahun. Jenis PPh yang dipungut oleh pihak lain yang pada akhir tahun dapat dikreditkan itu salah satunya adalah PPh Pasal 22 Impor. Oleh pihak importir, PPh atas impor ini pada akhir tahun akan mengurangi beban pajak penghasilan atas kegiatan usahanya selama satu tahun. Karena sifatnya dapat dikreditkan, PPh Impor ini seharusnya tidak menambah harga pokok barang impor yang akan dijual kembali di dalam negeri. Jadi secara teori perpajakan, kenaikan tarif PPh Impor ini tidak menyebabkan kenaikan harga barang.

Lain halnya dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). PPN merupakan pajak atas konsumsi. Jadi meskipun oleh pelaku usaha PPN atas pembelian (Pajak Masukan) dapat dikreditkan, pada akhirnya PPN ini akan menjadi beban konsumen. Terlebih lagi, Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Disamping merupakan pajak atas konsumsi, PPnBM tidak dapat dikreditkan. Karena tidak dapat dikreditkan, oleh Importir, PPnBM atas barang impor akan dibebankan sebagai harga pokok barang. Maka secara otomatis, naik atau turunnya tarif PPnBM akan menyebabkan naik/turun harga barang. Kalau pada akhirnya kenaikan tarif impor, berdampak naiknya harga, menurut hemat saya ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, dengan naiknya PPh atas Impor, importir akan terganggu cash flow-nya sehingga akan mengurangi jumlah impor. Jika berkurangnya barang impor ini tidak diimbangi peningkatan kapasitas produksi industri dalam negeri, maka akan berlaku hukum pasar. Supply barang berkurang, sementara untuk barang tertentu demand-nya tetap, maka akan terjadi kenaikan harga.

Penghasilan pajak yang rendah di sektor non-migas bisa dikompensasi dari sektor lain yang pendapatannya cukup tinggi. PPh sektor migas memang tercatat cukup baik pada 2018, yakni sebesar Rp 64,7 triliun atau tumbuh 28,6 persen. Namun, lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 39,4%. Selain PPh migas, ada pula sektor industri pengolahan Rp363,60 triliun atau naik 11,12 persen, perdagangan Rp 234,46 triliun (tumbuh 23,72 persen), sektor jasa keuangan & asuransi Rp162,15 triliun (11,91 persen) konstruksi & real estate Rp83,51 triliun (6,62 persen), pertambangan Rp 80,55 triliun (51,15 persen), serta sektor pertanian Rp 20,69 triliun (21,03 persen). Pemerintah harusnya bisa menggenjot pajak di sektor non-migas tahun ini. Terutama, kata dia, dari pajak PPn yang pertumbuhannya rendah pada 2018. Hal yang tak kalah penting adalah pemanfaatan data automatic exchange of information (AEoI) serta keterbukaan data transaksi keuangan harus ditingkatkan sehingga bisa dirasakan dampaknya tahun ini. Pendekatan dalam pengawasan pajak juga harus diperkuat dengan bantuan IT atau penambahan SDM.

353f9a0c.png

Kementerian Keuangan merilis data sementara realisasi pendapatan negara tahun 2018 yang mencapai Rp1.942,3 triliun atau 102,5% dari target APBN sebesar Rp1.984,7 triliun. Tercapainya target pendapatan negara antara lain berkat realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang memenuhi ekspektasi. Sayangnya, target pajak kembali meleset (shortfall), dengan hanya mencatatkan penerimaan sebesar Rp1.315,9 triliun atau 92,4% dari target Rp1.423,3 triliun. Padahal, sebelumnya Direktorat jenderal Pajak (DJP) dalam outlook-nya optimistis mampu mencapai 94,9% target penerimaan pajak atau sebesar Rp 1.350 triliun. Mengutip Bisnis Indonesia, DJP menyatakan salah satu penyebab melesetnya target penerimaan pajak tahun lalu karena kebijakan percepatan restitusi. Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan DJP Yon Arsal berdalih outlook penerimaan pajak 2018 ketika disusun belum mengantisipasi potensi peningkatan permintaan percepatan pengembalian kelebihan bayar pajak. Dasar hukum persepatan restitusi adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 39/PMK.03/2018 tentang Tata Cara Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak, yang terbit dan efektif berlaku sejak 12 April 2018.

Apabila diuraikan lebih detil, sektor nonmigas masih menjadi penyumbang terbesar penerimaan pajak tahun 2018, yakni 90,3% atau sebesar Rp 1.251,2 triliun. Meskipun belum mencapai target yang diinginkan, pajak nonmigas mengalami pertumbuhan positif dibandingkan dengan realisasi tahun 2017 yang hanya sebesar RpRp1.100,7 triliun atau 88,6% dari target APBNP. Sementara PPh migas, dengan kontribusi sebesar 4,9% dari total penerimaan pajak, mencatatkan pertumbuhan 28,6% setelah mencapai target sebesar 169%. Sementara jika dilihat berdasarkan kontribusi sektor industri, penerimaan pajak lebih banyak ditopang oleh industri pengolahan dengan kontribusi mencapai 30% dari total penerimaan pajak (Rp 363,6 triliun). Dilanjutkan oleh sektor industri perdagangan yang menyumbang 19,3%, jasa keuangan dan asuransi 13,4%, konstruksi dan real estate 6,9%, pertambangan 6,6%, dan pertanian 1,7%.

Ternyata perihal kenaikan pajak ini sudah dibahas melalui pemikiran seorang ekonom di abad ke 14 yaitu Ibnu Khaldun yang berabad- abad kemudian menjadi cerminanArthur Laffer, ekonom asal USA, yang menggambarkan hasil pemikiran Ibnu Khaldun dalam bentuk kurva sederhana (secara sekilas) yang sarat makna, dikenal dengan Laffer Curve. Inti dari pemikiran Ibnu Khaldun adalah bahwa:

“In the early stages of the state, taxes are light in their incidence, but fetch in a large revenue…As time passes and kings succeed each other, they lose their tribal habits in favor of more civilized ones. Their needs and exigencies grow…owing to the luxury in which they have been brought up. Hence they impose fresh taxes on their subjects… and sharply raise the rate of old taxes to increase their yield…But the effects on business of this rise in taxation make themselves felt. For business men are soon discouraged by the comparison of their profits with the burden of their taxes… Consequently production falls off, and with it the yield of taxation.”

Dari ikhtisar pemikiran beliau penulis menyimpulkan ketika tarif pajak rendah sebut saja misal 0% maka tidak ada penerimaan yang bisa didapat negara dari pajak, dan masyarakat akan memiliki penghasilan tinggi namun tanpa pelayanan publik yang memadai, keadaan ini mungkin terjadi dijaman dahulu ketika manusia hidup dalam pola yang bisa dibilang tidak memiliki peradaban. Seiring waktu ketika tingkat peradaban mulai berkembang yang diikuti peningkatan kebutuhan akan tata negara yang baik maka disaat itu dibutuhkan iuran berupa pajak dengan tarif yang hingga kini belum bisa ditentukan berapa tingkat wajarnya, andai disebutkan 100% (kondisi ekstrim) maka hal ini akan membuat efek domino berupa penurunan produktivitas (sengaja memilih tidak bekerja).

Kurva Laffer menunjukkan hubungan antara tarif pajak dan tingkat pendapatan pemerintah. Para pendukung kurva Laffer mengklaim bahwa kurva ini menggambarkan konsep dari elastisitas penghasilan kena pajak dimana, penghasilan kena pajak berubah sesuai dengan perubahan tarif pajak.

laffer curve

Kurva Laffer mengemukakan bahwa pajak penghasilan tidak akan naik pada tarif pajak ekstrim 0% dan 100% dan harus ada setidaknya satu tarif yang memaksimalkan pajak pendapatan pemerintah. Kurva Laffer ini biasanya direpresentasikan dalam bentuk sebuah grafik yang dimulai pada 0% pajak dengan nol pendapatan, naik ke tingkat maksimum pendapatan dengan tarif pajak menengah, dan kemudian jatuh kembali ke nol pendapatan dengan tarif pajak sebesar 100%. 

Salah satu implikasi dari kurva Laffer adalah bahwa peningkatan tarif pajak yang melampaui titik tertentu akan menjadi kontra-produktif dalam meningkatkan penerimaan pajak. Hipotetis kurva Laffer yang diberikan untuk setiap ekonomi hanya dapat diperkirakan dan perkiraan tersebut bersifat kontroversial. New Palgrave Dictionary of Economics melaporkan bahwa perkiraan pendapatan-memaksimalkan tarif pajak bervariasi secara luas, dengan kisaran sekitar 70%. Umumnya, para ekonom menemukan sedikit dukungan untuk mengklaim bahwa pemotongan pajak dari tarif saat ini meningkatkan pendapatan pajak atau kebanyakan pajak berada di sisi kurva Laffer di mana pemotongan tambahan bisa meningkatkan pendapatan pemerintah.

Menjadi tugas Kementerian Keuangan (melalui DJP) untuk menentukan tarif pajak yang dianggap wajar dalam menjaga penerimaan negara, dan ternyata penentuan ini tidak semudah yang dibayangkan, ada lebih dari sekedar kalkulasi matematis namun juga semacam pertimbangan respon perilaku pasar (wajib pajak yang bertransaksi) yang kadang sulit ditebak, kecuali jika memang objek/barang transaksi sifatnya memang primer/pokok maka efeknya tidak akan terlalu berpengaruh (sifatnya inelastis).

Jika dikembalikan pada kondisi ekstrim tadi (kesimpulan penulis atas pemikiran Ibnu Khaldun) bisa jadi adalah dengan menurunkan tarif pajak pada tingkat tertentu yang akan mendorong perilaku pasar menunjukkan respon maksimal atas insentif ini. Karena secara teori justru peningkatan tarif akan membuat pasar jadi lesu, dan ini menimbulkan deadweight loss (kerugian beban baku/inefisiensi) yang lebih besar bagi produktivitas pasar.

Namun demikian, kesimpulan teoritis ini masih dibayangi oleh keraguan akan stabilitas politik pemerintahan dalam negeri yang belum optimal memberikan perhatian pada respon pasar atas kebijakan perpajakan yang dibuat DJP. Terlebih pada penduduk negeri ini yang berhak akan kehidupan yang layak dan pelayanan publik yang baik. Apa mungkin pemikiran Ibnu Khaldun dan Kurva Laffer akan menjadi anomali di negeri ini? Semoga tidak. Karena tuntutan kebutuhan penyelenggaraan kehidupan negeri ini makin meningkat dan membutuhkan dana besar yang menjadi tugas berat DJP.

Referensi :

  1. Irvin B. Tucker (2010), Survey of Economics, Cengage Learning, hlm. 341, 
  2. Fullerton, Don (2008). “Laffer curve”. Dalam Durlauf, Steven N.; Blume, Lawrence E. The New Palgrave Dictionary of Economics (edisi ke-2nd). hlm. 839. 
  3.  Feige, Edgar L.; McGee, Robert (1982). “Supply Side Economics and the Unobserved Economy: The Dutch Laffer Curve”. [Economisch Statistische Berichten]67 (November).
  4. Feige, Edgar L.; McGee, Robert (1982). “The Unobserved Economy and the UK Laffer Curve”. 3 (1). The Journal of Economic Affairs: 36-42.
  5. Feige, Edgar L.; McGee, Robert (1983). “Sweden’s Laffer Curve:Taxation and the Unobserved Economy”. The Scandinavian Journal of Economics85 (4): 499-519.
  6.  Trabandt, Mathias; Uhlig, Harald (2011). “The Laffer Curve Revisited”.. 58 (4): 305–27. 
  7. Pecorino, Paul (1995). “Tax rates and tax revenues in a model of growth through human capital accumulation”. Journal of Monetary Economics36 (3): 527. 
  8. http://www.pajak.go.id/article/kenaikan-tarif-pph-impor-picu-lonjakan-harga

Basel III dan Pengukuran CVA untuk Resiko Credit pada Instrumen Derivatif dengan Counterparty

Dalam pengalaman menghadiri beberapa seminar dan training belakangan, saya mengetahui sebuah isu yang sama, bahwa saat ini beberapa bank di Indonesia diminta mengisi form perhitungan CVA oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebenarnya, apa yang dimaksud CVA tersebut?

Secara teoritis CVA adalah selisih antara nilai pasar portfolio bebas risiko (risk free) dengan nilai pasar portfolio yang sebenarnya. Jadi untuk portfolio atau perjanjian derivatif dengan counterparty bebas risiko misalnya pemerintah, maka CVA sama dengan nol, tapi apabila counterparty transaksi tersebut merupakan perusahaan yang berisiko, maka CVA adalah risiko counterparty yang menurut Basel III perlu disiapkan sejumlah modal tertentu sesuai risiko CVA tersebut. Jadi CVA adalah nilai pasar dari risiko default dari counterparty, atau counterparty risk (CCR) yang besarnya tergantung dari kualitas rating kredit (atau credit spreads) dari counterpartytersebut.

Bisnis bank atau perusahaan pada umumnya mengandung risiko. Salah satu cara untuk mengendalikan risiko adalah dengan transaksi derivatif seperti transaksi kontrak Futures, Forward, Options, Swaps. Transaksi derivatif dilakukan dengan counterparty tertentu dengan exposure dan jangka waktu tertentu. Pada saat kontrak dibuat, nilai pasar derivatif sama dengan nol. Dengan berjalannya waktu, karena faktor pasar misalnya suku bunga pasar dan nilai tukar berubah, maka salah satu pihak dalam perjanjian derivatif tersebut akan mempunyai tagihan derivatif dan pihak lainnya kewajiban derivatif. Misalnya ABC mempunyai tagihan derivatif pada XYZ, dan XYZ bangkrut sebelum perjanjian derivatif jatuh tempo, maka ABC bisa gigit jari karena tagihannya tidak tertagih atau hanya dapat ditagih sebagian saja. Jadi ada kemungkinan pihak yang melakukan transaksi derivatif dan kemudian mempunyai tagihan akan mengalami kerugian. CVA adalah nilai ekspektasi (expected loss) dari potensi kerugian tersebut dan perlu dilakukan lindung nilai misalnya dengan CDS (credit default swaps), total return swap dsb, atau disiapkan modal untuk menutup potensi kerugian tersebut.

Sebenarnya Basel II sudah memperhitungkan CCR melalui penetapan faktor konversi, tetapi tidak memperhitungkan perubahan credit spread dari counterparty selama 1 tahun masa kontrak derivatif, dan masalah ini yang diperbaiki oleh Basel III.

Besar dari CVA dapat ditentukan antara lain dengan CVAR (Conditional Value at Risk) atau expected shortfall (ES). VaR (Value at Risk) adalah potensi kerugian dari portfolio pada confident level tertentu (misalnya 99%) dan jangka waktu tertentu (misalnya 1 hari). Apabila daily VaR (99%) = 3%, artinya ada 1% kemungkinan portfolio dapat mengalami kerugian lebih dari 3% dalam 1 hari. VaR mengabaikan kerugian diatas confident level 99%. CVaR = 4.5% artinya dari 1% risiko kerugian terbesar, rata-rata ekspektasi kerugian adalah 4.5% dari total nilai portfolio.

Perhitungan CVA relatif kompleks. OJK pada perhitungan CVA menggunakan cara sederhana, dimana eksposur total adalah current exposure atau nilai pasar derivatif atas dasar mark to market, ditambah PFE (potential Future exposure), dan menggunakan rumus baku dalam proses perhitungan CVA

Munculnya Basel III secara signifikan mengubah cara di mana lembaga keuangan menangani risiko kredit counterparty. Sementara sejumlah kecil bank disiapkan untuk perubahan peraturan dan secara aktif mengelola CVA, kompleksitas dan biaya pelaksanaan infrastruktur yang diperlukan tetap menjadi pekerjaan besar bagi mayoritas bank.

Volatilitas pasar yang dialami selama krisis keuangan telah mendorong banyak perusahaan untuk meninjau metode akuntansi mereka untuk risiko kredit counterparty. Pendekatan tradisional dalam mengendalikan risiko kredit counterparty adalah menetapkan batasan terhadap eksposur masa depan dan memverifikasi potensi perdagangan terhadap batasan-batasan ini. Penyesuaian Nilai Kredit (Credit Value Adjustment – CVA) adalah ukuran risiko baru yang menawarkan peluang bagi bank untuk bergerak di luar batas kendali sistem dan untuk menentukan harga secara dinamis risiko kredit counterparty dari perdagangan baru. Banyak bank sudah mengukur CVA dalam laporan akuntansi mereka, tetapi krisis keuangan telah menyebabkan bank-bank perintis untuk berinvestasi dalam sistem yang lebih akurat menilai CVA, dan mengintegrasikan CVA ke dalam penetapan harga dan struktur pra-kesepakatan.

Menuju manajemen aktif dari risiko kredit counterparty dengan CVA

Basle III dan ukuran CVA untuk Risiko Kredit Counterparty
Setiap perusahaan yang berpartisipasi dalam pasar OTC Derivatives terkena risiko kredit counterparty. Risiko ini telah didefinisikan sebagai risiko yang terjadi ketika default counterparty, menyiratkan non-pembayaran arus kas masa depan yang disepakati pada kontrak derivatif.

Kemudian memodelkan eksposur masa depan kredit adalah bagian mendasar dari manajemen risiko dan memperkenalkan perubahan pada hari ke hari harga dan lindung nilai pada transaksi dalam pasar ini.

Kesepakatan Basel II memperkenalkan banyak statistik tentang hukum distribusi Masa Depan ke Pasar untuk memperkirakan potensi paparan masa depan yang positif:

Di antara mereka ukuran umum yang diadopsi adalah Ekspansi Puncak Maks yang merupakan singkatan dari jumlah maksimum kerugian yang akan terjadi jika pihak lawan adalah default pada titik mana pun di masa depan, untuk tingkat kepercayaan statistik tertentu. Katakanlah dengan kata lain, itu adalah paparan masa depan terbesar atas semua jalur masa depan dari faktor risiko pasar yang relevan antara sekarang dan tanggal jatuh tempo masa depan kontrak.

Jenis risiko lain yang di bawah perkiraan atau diabaikan adalah bahwa nilai kontrak derivatif dapat sangat tinggi dan berkorelasi negatif dengan kelayakan kredit dari pihak lawan. Jenis risiko ini sering disebut Risiko Jalan yang Salah.

Sebagaimana diperkenalkan dan didefinisikan dalam Kesepakatan Basel III, Ada dua jenis Wrong Way Risk

cds wrong way risk

Wrong Way Risk tertentu
WWR spesifik muncul ketika misalnya perusahaan memilih untuk menggunakan sahamnya sendiri sebagai jaminan untuk pengambilan posisi. Dalam situasi itu jika perusahaan mengalami kesulitan arus kas, nilai saham akan turun karena probabilitas default meningkat. Hal ini menyebabkan depresiasi nilai agunan yang dimiliki untuk menutupi pengiriman kontrak yang telah dibuka perusahaan.

Risiko Wrong Way Risk umum
Bentuk umum dari Risiko Wrong Way muncul ketika kualitas kredit pihak rekanan untuk alasan yang tidak spesifik dapat berkorelasi dengan faktor-faktor makroekonomi lainnya yang mungkin juga berdampak pada eksposur transaksi derivatif terbuka.

Risiko Wrong Way umum terkait dengan faktor-faktor konjungtor ekonomi yang sulit dideteksi pada buku perdagangan Bank dan juga sulit diukur.

Contoh Wrong Way Risk
Asumsikan bahwa investor A (pembeli perlindungan) membeli CDS dari rekanannya, bank B (penjual perlindungan) pada entitas referensi E yang berpotensi gagal pada.

Contoh ini menunjukkan bahwa jika probabilitas bawaan E dan B berkorelasi positif, maka eksposur A meningkat sementara kualitas kredit B menurun. Situasi ini khas dari apa yang kami sebut Risiko Jalan Salah tertentu.

Gejolak pasar keuangan yang dimulai pada tahun 2007 telah dengan jelas menyoroti risiko mendasar ini pada transaksi OTC. Sebelum tanggal ini banyak lembaga keuangan mengakui sebagai konsensus bahwa sebagian besar eksposur derivatif mereka adalah dengan “terlalu besar untuk gagal” counterparty. Lembaga lain memperhitungkan risiko yang mendasari ini tetapi tidak secara aktif menetapkan harga atau mengelolanya.

Hari ini menjadi jelas bahwa risiko kredit counterparty juga harus diperhitungkan ketika melaporkan nilai wajar dari setiap posisi derivatif. Penyesuaian terhadap nilai ini dikenal sebagai Penyesuaian Nilai Kredit (atau Penyesuaian Valuasi Kredit).

Penyesuaian Nilai Kredit (CVA)
Penyesuaian Nilai Kredit adalah berdasarkan definisi perbedaan antara portofolio bebas risiko dan nilai portofolio sebenarnya yang memperhitungkan kemungkinan jika default counterparty. Dengan kata lain, CVA mewakili nilai pasar dari risiko kredit rekanan.

Bagaimana cara menghitung CVA?
Biarkan L * menjadi kerugian teraktualisasi yang dapat terjadi dalam selang waktu [0, T] kerugian teraktualisasi

actualized losses

Dimana

LDG: adalah Loss Given Default
EE: Perkiraan Eksposur positif
PD: Probabilitas default
CVA diformulasikan sebagai risk-neutral conditional expectation actualized losse

Hasil gambar untuk cva credit valuation adjustment

Kitajuga membuat asumsi bahwa Tingkat Pemulihan di default adalah konstanta yang diketahui dan kami kemudian memiliki ekspresi umum CVA:

Formula CVA 2

CVA formula 2

Ungkapan matematis ini dan khususnya ekspektasi bersyarat menyoroti fakta bahwa terdapat korelasi antara eksposur Bank Dunia dan kualitas kredit dari pihak rekanan terwujud oleh frekuensi default yang diharapkan. Dengan kata lain, ukuran ini memperkenalkan distribusi bersama dari faktor-faktor pasar dan faktor-faktor kredit yang mendorong potensi default dari pihak lawan.

CVA mengukur perubahan lingkungan untuk penetapan harga dan mengelola risiko pihak lawan dan sebagian besar pengguna derivatif sudah memiliki kelompok CVA yang didedikasikan untuk mengendalikan risiko kredit pihak lawan untuk lini bisnis mereka. Tampaknya wajar untuk memusatkan pengelolaan CVA karena counterparty yang khas dapat dihubungkan dengan banyak meja perdagangan.

Meja CVA umumnya dibuat dari Meja Perdagangan untuk memungkinkan Pedagang masih bekerja di “dunia bebas risiko” seperti biasa. Dengan cara ini Meja Perdagangan bebas dari:

  1. Mengakses seluruh portofolio yang bisa memiliki kaki khusus yang dipesan ke dalam sistem yang berbeda.
  2. Menangani seluruh rangkaian data pasar dan kredit yang diperlukan untuk menghitung CVA

CVA Desk dapat berkonsentrasi pada pengembangan model simulasi yang diadaptasi dan algoritma penetapan harga, lindung nilai CVA. Berjalan secara paralel dengan Meja Perdagangan, CVA Desk bertanggung jawab untuk mengekspresikan CVA sebagai skalar yang mewakili penyebaran antara penilaian risiko bebas risiko dan kredit dari perdagangan atau portofolio. Pada tingkat portofolio CVA sayangnya bukan merupakan ukuran tambahan dan ini menyiratkan bahwa Global CVA pada tingkat portofolio global tidak dapat dihitung sebagai jumlah dari perdagangan CVA individu. Hal ini disebabkan oleh perjanjian netting dan collateral yang berlaku pada beberapa transaksi OTC dan juga karena sifat dari eksposur kredit (out the money Mark to Market tidak memiliki eksposur). Oleh karena itu, Desk harus menghitung CVA dan Eksposur kredit pada tingkat perdagangan dan portofolio.

Nilai CVA per perdagangan harus memiliki persyaratan untuk:

  1. Pembuatan keputusan yang lebih baik pada awal perdagangan; Ini berarti bahwa sebelum memesan transaksi, trader dapat memastikan bahwa NPV bebas risiko yang disesuaikan dengan dampak dari kesepakatan ini pada portofolio global CVA adalah positif. Ini disebut CVA inkremental dan merupakan perbedaan antara CVA portofolio sebelum dan setelah pemesanan kesepakatan.
  2. Tujuan Alokasi setelah kesepakatan telah dilakukan: Global CVA kemudian didekomposisi sebagai jumlah dari masing-masing Marginal CVA (Variasi dari CVA global sehubungan dengan kesepakatan yang diberikan)

Penetapan CVA Desk bisa diringkas sebagai berikut:

  1. Pada tingkat transaksi Pra: Mampu menyampaikan sesuai permintaan ke Meja Dagang, CVA inkremental yang dinyatakan sebagai spread
  2. Selama masa kesepakatan: mengintegrasikan dalam perdagangan yang dieksekusi dalam proses CVA global
  3. Pada tingkat pasca perdagangan: Menganalisis CVA dan mengalokasikan hasil per perdagangan (Marginal CVA)
  4. Mengelola portofolio CVA: Hedging the risk (mendeteksi WWR), memenuhi peraturan dalam hal alokasi biaya modal.

Membentuk kelompok khusus semacam itu dapat menambah nilai besar bagi kemampuan lembaga untuk mengelola risikonya. Mereka meningkatkan keunggulan kompetitif dalam transaksi, dan membantu untuk menyadari kapan yang terbaik untuk melarikan diri dari beberapa counterparty penuh risiko dan ketika menarik untuk meningkatkan tingkat bisnis dengan beberapa counterparty yang dapat diandalkan.

CVA berdampak pada sistem IT
CVA mendorong banyak perusahaan untuk secara fundamental mengevaluasi ulang arsitektur sistem risiko mereka, dan perusahaan telah menemukan bahwa perhitungan CVA yang tepat adalah tidak sepele, bahkan secara periodik

Model CVA adalah waktu dan sumber daya yang memakan dan memerlukan infrastruktur yang canggih dan sangat fleksibel. Mereka melibatkan banyak tim yang berbeda termasuk TI untuk merancang antarmuka RT, TI Quant untuk menerapkan model yang efisien, Quant untuk mendefinisikan dan memvalidasi model dan generasi skenario, Front office dan staf manajemen Risiko untuk memvalidasi seluruh proses dari sudut pandang bisnis, Kembali Kantor untuk proses pengaturan dan laporan.

Data dan Modul diperlukan untuk menjalankan meja CVA
Data Portofolio
Untuk transaksi sebelum cek, Trading Desks harus berinteraksi secara Real Time dengan CVA Desk

Data pasar
Data pasar yang dibutuhkan untuk CVA Desk hampir sama dengan yang dibutuhkan oleh Meja Perdagangan. Selain itu mereka membutuhkan:

Kredit terkait Data Pasar CDS menyebar dan kurva tingkat pemulihan
Matriks korelasi antara model yang mendasari (nilai tukar, rasio ekuitas….) Dan data pasar kredit untuk menangani WWR.
Data Pasar dapat dimuat dari penyedia eksternal atau langsung dari sistem perdagangan

Data mitigasi CCR

  1. Sistem jaminan: Data tambahan diperlukan pada waktu penetapan harga.
  2. Proses margin: Bank yang sangat terlibat dalam perdagangan derivatif OTC terus meningkatkan penggunaan margining untuk mengimbangi eksposur kredit mereka.
  3. Sistem netting: Netting agreement diperlukan pada waktu agregasi

Mesin generator skenario
Modul ini harus mengakses data pasar.

Engine skenario juga harus mengakses data portofolio, terutama untuk membangun bucket waktu.

Bertentangan dengan model CVaR di mana cakrawala waktu adalah 10 hari cakrawala, CVA membutuhkan model-model pengeluaran untuk kematangan terakhir dari portofolio. Akibatnya, model ini tidak dapat mengandalkan hipotesis sederhana seperti difusi laju tukar lognormal, melainkan mempertimbangkan efek yang lebih kompleks seperti pengembalian rata-rata.

Meskipun tentu saja tergantung pada data pasar, skenario tidak dapat dihasilkan setiap kali diperlukan komputasi CVA.

Price Engine

Kerangka Umum yang digunakan adalah simulasi MC dan menggunakan teknik Grid Computing.

Agregate Machine

Tujuannya adalah untuk menghitung nomor CVA dari NPV perdagangan individu dihitung pada setiap node (node ​​mendefinisikan tanggal dan jalur). Poin utamanya adalah memperhitungkan informasi Netting.

Deskripsi proses
Skema berikut menjelaskan arsitektur yang mungkin untuk perhitungan CVA berdasarkan teknologi kubus OLAP.

CVA desk

Scenario Cube
Kubus ini berisi skenario yang disediakan oleh mesin Scenario Generator. Setiap node (tanggal, path) disimpan dalam kubus ini. Data dapat berupa kurva itu sendiri atau faktor-faktor model. Dalam kasus terakhir, itu berarti bahwa kurva harus dibangun kembali pada waktu penetapan harga.

Value Cube
Kubus ini beruisi oleh Pengumpan Harga dengan nilai harga dari setiap perdagangan portofolio dan pada setiap node dari kubus Skenario.

Tugas ini harus diproses ‘maju’ pada setiap jalur untuk memperbanyak perbaiki dan peristiwa perdagangan dengan benar.

Berdasarkan dua kubus ini, kita dapat menghitung CVA dan Incremental CVA.

 

CVA architecture

Sistem perdagangan yang ada akan menjadi titik awal yang buruk untuk memberikan pengukuran CVA yang kredibel, karena sistem ini sering memproses hanya sebagian dari semua perdagangan dengan pihak lawan, mereka tidak memiliki kemampuan untuk memodelkan jaring dan perjanjian jaminan, dan mereka tidak dapat menghasilkan diperlukan skenario risiko netral di semua faktor risiko pada tingkat kinerja yang diperlukan. Selain itu, sebagian besar sistem yang ada tidak memiliki kinerja atau kemampuan analitis untuk menghitung kepekaan (orang Yunani), yang diperlukan untuk pengelolaan CVA.

Kunci untuk menjalankan meja CVA yang sukses adalah menemukan keseimbangan yang tepat antara pengambilan risiko dan perlindungan aktif. Sementara CVA harus dilindungi secara parsial untuk menghindari variasi laba dan rugi yang dramatis, batasan ini jauh dari sempurna dan risiko residual harus dipahami dengan baik.

 

 

Referensi :

  1.  Alvin Lee (17 August 2015). “The Triple Convergence Of Credit Valuation Adjustment (CVA)”. Global Trading.
  2. Jump up^ A Guide to Modeling Counterparty Credit Risk, GARP Risk Review,July-August 2007 Related SSRN Research Paper
  3. Jump up^ Patrik Karlsson, Shashi Jain. and Cornelis W. Oosterlee. Counterparty Credit Exposures for Interest Rate Derivatives using the Stochastic Grid Bundling Method. Applied Mathematical Finance. Forthcoming 2016. [1]

Manajemen Resiko Pada Perbankan Berbasis Syariah

Perkembangan perbankan syariah mengalami pertumbuhan yang pesat khususnya sepanjang tiga dekade terakhir ini, baik di dunia internasional maupun di Indonesia. Pada era modern ini, perbankan syariah telah menjadi fenomena global, termasuk di negara-negara yang tidak berpenduduk mayoritas muslim. Manajemen risiko merupakan unsur penting yang penerapannya sangat perlu diperhatikan, khususnya pada Bank sebagai salah satu lembaga keuangan (financial institution) . Penyusunan kerangka kerja, struktur dan perangkat yang efektif untuk memonitor risiko dengan menggunakan pendekatan Enterprise Risk Management (ERM) telah dimulai di tahun 2007. Selama 2007, pekerjaan besar telah diselesaikan dalam mengidentifikasi risk event dan merencanakan skenario untuk meningkatkan efektivitas Bank dalam kemampuannya menanggapi potensi atau terjadinya risk event.

Istilah (risk) risiko memiliki berbagai definisi. Secara umum risiko diinterpretasikan sebagai sebuah ketidakpastian atas suatu posisi. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut:

– Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian). Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada.

– Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian). Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.

– Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian). Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi risiko berikut.

– Risk is the dispersion of actual from expected results (Risiko merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan).

Ahli statistik mendefinisikan risiko sebagai derajat penyimpangan sesuatu nilai disekitar suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata.

– Risk is the probability of any outcome different from the one expected (Risiko adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan). Menurut definisi di atas, risiko bukan probabilita dari suatu kejadian tunggal, tetapi probabilita dari beberapa outcome yang berbeda dari yang diharapkan.

Dari berbagai definisi diatas, risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Dengan kata lain, kemungkinan itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian.

Kerangka Manajemen Resiko

• Identifikasi Resiko dilaksanakan dengan melakukan analisis terhadap karakteristik resiko yang melekat pada aktivitas fungsional, Resiko terhadap produk dan kegiatan usaha

• Pengukuran resiko dilaksanakan dengan melakukan evaluasi secara berkala terhadap kesesuaian asumsi, sumber data dan prosedur yang digunakan untuk mengukur resiko , Penyempurnaan terhadap sistem pengukuran resiko apabila terdapat perubahan kegiatan usaha, produk, transaksi dan faktor resiko yang bersifat material

• Pemantauan Resiko dilaksanakan dengan melakukan evaluasi terhadap eksposure resiko Penyempurnaan proses pelaporan terdapat perubahan kegiatan usaha, produk, transaksi, faktor resiko, teknologi informasi dan sistem informasi manajemen yang bersifat material Pelaksanaan proses pengendalian resiko, digunakan untuk mengelola resiko tertentu yang dapat membahayakan kelangsungan usaha

Fungsi Manajemen Resiko

• Menetapkan arah dan risk appetite dengan mengkaji ulang secara berkala dan menyetujui risk exposure limits yang mengikuti perubahan strategi perusahaan

• Menetapkan limit umumnya mencakup pemberian kredit, penempatan non kredit, asset liability management, trading dan kegiatan lain seperti derivatif dan lain-lain

• Menetapkan kecukupan prosedur atau prosedur pemeriksaan (audit) untuk memastikan adanya integrasi pengukuran resiko, kontrol sistem pelaporan, dan kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur yang berlaku

• Menetapkan metodologi untuk mengelola resiko dengan menggunakan sistem pencatatan dan pelaporan yang terintegrasi dengan sistem komputerisasi sehingga dapat diukur dan dipantau sumber resiko utama terhadap organisasi Bank

Profil Risiko Perbankan Syariah

Dalam konteks perbankan risiko merupakan potensi terjadinya suatu peristiwa (events) yang dapat menimbulkan kerugian Bank. Secara umum. Dalam konteks penerapan manajemen risiko, pedoman yang dijalankan selama ini, dibuat hanya untuk bank-bank konvensional. Padahal pemain dalam bisnis perbankan dunia dan nasional tidak hanya bank konvensional, tetapi juga telah diramaikan oleh bank dengan prinsip syariah yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Maka bagaimana penerapan manajemen risiko pada bank-bank syariah? Secara historis penerapan manajemen risiko pada bank, dalam hal ini BI sendiri baru mulai menerapkan aturan perhitungan capital adequacy ratio (CAR) pada bank sejak 1992. Sementara itu, bank dengan prinsip syariah lahir pertama kali di Indonesia pada tahun yang sama. Jadi jika dilihat dari usia sistem perbankan syariah, hal ini merupakan tantangan yang berat. Bank syariahpun akan sangat sulit mengikuti konsep yang telah dijalankan perbankan konvensional dalam hal manajemen risiko, mengingat perbankan konvensional membutuhkan waktu yang panjang untuk membangun sistem dan mengembangkan teknik manajemen risiko, di Lain pihak, operasi bank syariah memiliki karakteristik dengan perbedaan yang sangat mendasar jika dibandingkan dengan bank konvensional, sementara manajemen risiko juga harus diimplementasikan oleh bank syariah agar tidak hancur dihantam risiko. Oleh karena itu, apa yang dapat dilakukan? Cara yang paling cepat dan efektif adalah mengadopsi sistem manajemen risiko bank konvesional yang disesuaikan dengan karakteristik perbankan syariah. Inilah yang dilakukan BI sebagai regulator perbankan nasional yang akan menerapkan juga bagi perbankan syariah.

Dalam hal ini Islamic Financial Services Board (IFSB), telah merumuskan prinsip-prinsip manajemen risiko bagi bank dan lembaga keuangan dengan prinsip syariah. Pada 15 Maret 2005 yang lalu, exposure draft yang pertama telah dipublikasikan. Dalam executive summary draft tersebut dengan jelas disebutkan bahwa kerangka manajemen risiko lembaga keuangan syariah mengacu pada Basel Accord II (yang juga diterapkan perbankan konvensional) dan disesuaikan dengan karakteristik lembaga keuangan dengan prinsip syariah. Secara umum, risiko yang dihadapi perbankan syariah bisa diklasifikasikan menjadi dua bagian besar. Yakni risiko yang sama dengan yang dihadapi bank konvensional dan risiko yang memiliki keunikan tersendiri karena harus mengikuti prinsip-prinsip syariah. Risiko kredit, risiko pasar, risiko benchmark, risiko operasional, risiko likuiditas, dan risiko hukum, harus dihadapi bank syariah. Tetapi, karena harus mematuhi aturan syariah, risiko-risiko yang dihadapi bank syariah pun menjadi berbeda.

Bank syariah juga harus menghadapi risiko-risiko lain yang unik (khas). Risiko unik ini muncul karena isi neraca bank syariah yang berbeda dengan bank konvensional. Dalam hal ini pola bagi hasil (profit and loss sharing) yang dilakukan bank syari’ah menambah kemungkinan munculnya risiko-risiko lain. Seperti withdrawal risk, fiduciary risk, dan displaced commercial risk merupakan contoh risiko unik yang harus dihadapi bank syariah. Karakteristik ini bersama-sama dengan variasi model pembiayaan dan kepatuhan pada prinsip-prinsip syariah. Konsekuensinya, teknik-teknik yang digunakan untuk melakukan identifikasi, pengukuran, dan pengelolaan risiko pada bank syariah dibedakan menjadi dua jenis. Teknik-teknik standar yang digunakan bank konvesional, asalkan tidak bertentangan dengan prinsip syariah, bisa diterapkan pada bank syariah. Beberapa di antaranya, GAP analysis, maturity matching, internal rating system, dan risk adjusted return on capital (RAROC).

Di sisi lain bank syariah bisa mengembangkan teknik baru yang harus konsisten dengan prinsip-prinsip syariah. Ini semua dilakukan dengan harapan bisa mengantisipasi risiko-risiko lain yang sifatnya unik tersebut. Survei yang dilakukan Islamic Development Bank (2001) terhadap 17 lembaga keuangan syariah dari 10 negara mengimplikasikan, risiko-risiko unik yang harus dihadapi bank syariah lebih serius mengancam kelangsungan usaha bank syariah dibandingkan dengan risiko yang dihadapi bank konvesional. Survei tersebut juga mengimplikasikan bahwa para nasabah bank syariah berpotensi menarik simpanan mereka jika bank syariah memberikan hasil yang lebih rendah daripada bunga bank konvesional. Lebih jauh survei tersebut menyatakan, model pembiayaaan bagi hasil, seperti diminishing musyarakah, musyarakah, mudharabah, dan model jual-beli, seperti salam dan istishna’, lebih berisiko ketimbang murabahah dan ijarah. Dalam pengembangannya ke depan, perbankan syariah menghadapi tantangan yang tidak ringan sehubungan dengan penerapan manajemen risiko ini seperti, pemilihan instrumen finansial yang sesuai dengan prinsip syariah termasuk juga instrumen pasar uang yang bisa digunakan untuk melakukan hedging (lindung nilai ) terhadap risiko. Oleh karena BI dan IFSB mengacu pada aturan Basel Accord II, maka pemahaman yang matang mengenai manajemen risiko bank konvensional akan sangat membantu penerapan manajemen risiko di bank syariah.

Metode Memperlakukan Resiko

1. Dihindari, apabila resiko tersebut masih dalam pertimbangan untuk diambil, misalnya karena tidak masuk kategori Resiko yang diinginkan Bank atau karena kemungkinan jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang diharapkan

2. Diterima dan dipertahankan, apabila resiko berada pada tingkat yang paling ekonomis

3. Dinaikkan, diturunkan atau dihilangkan, apabila resiko yang ada dapat dikendalikan dengan tata kelola yang baik, atau melalui pengoperasian exit strategy

4. Dikurangi, misalnya dengan mendiversifikasi portofolio yang ada, atau membagi (share) resiko dengan pihak lain

5. Dipagari (hedge), apabila resiko dapat dilindungi secara atificial, misalnya resiko dinetralisir sampai batas tertentu dengan instrumen derivatif.

Resiko Perbankan Risio-risiko perbankan pada umumnya dibandingkan dengan bank syariah, mengacu pada Bab II pasal 4 butir 1 PBI No. 5/8/PBI/2003 antara lain sebagai berikut :

1. Risiko Kredit (credit risk) Adalah risiko yang timbul sebagai akibat kegagalan pihak memenuhi kewajibannya. Pada bank umum, pembiayaan disebut pinjaman, sementara di bank syariah disebut pembiayaan, sedangkan untuk balas jasa yang diberikan atau diterima pada bank umum berupa bunga (interest loan atau deposit) dalam persentase yang sudah ditentukan sebelumnya. Pada bank syariah, tingkat balas jasa terukur oleh sistem bagi hasil dari usaha. Selain itu, persyaratan pengajuan kredit pada perbankan syariah lebih ketat dari perbankan konvensional sehingga risiko kredit dari perbankan syariah lebih kecil dari perbankan konvensional. Oleh sebab itu pada sisi kredit, dalam aturan syariah, bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli murabahah. Dengan demikian debitor yang dinilai tidak cacat hukum dan kegiatan usahanya berjalan baik akan mendapat prioritas. Oleh sebab itu, risiko bank syariah sebetulnya lebih kecil dibanding bank konvensional. Bank syariah tidak akan mengalami negative spread, karena dari dana yang dikucurkan untuk pembiayaan akan diperoleh pendapatan, bukan bunga seperti di bank biasa.

2. Risiko Pasar Risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar dari portofolio yang dimiliki oleh bank, yang dapat merugikan bank. Variabel pasar antara lain adalah suku bunga dan nilai tukar. Pada perbankan syariah tidak terdapat risiko pasar dikarenakan perbankan syariah tidak melandaskan operasionalnya berdasar risiko pasar.

3. Risiko Likuiditas Risiko antara lain disebabkan bank tidak mampu memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo. Bank memiliki dua sumber utama bagi likuiditasnya, yaitu aset dan liabilitas. Apabila bank menahan aset seperti surat-surat berharga yang dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan dananya, maka resiko likuiditasnya bisa lebih rendah. Sementara menahan aset dalam bentuk surat- surat berharga membatasi pendapatan, karena tidak dapat memperoleh tingkat penghasilan yang lebih tinggi dibandingkan pembiayaan. Faktor kuncinya adalah bank tidak dapat leluasa memaksimumkan pendapatan karena adanya desakan kebutuhan likuiditas. Oleh karena itu bank harus memperhatikan jumlah likuiditas yang tepat. Terlalu banyak likuiditas akan mengorbankan tingkat pendapatan dan terlalu sedikit akan berpotensi untuk meminjam dana dengan harga yang tidak dapat diketahui sebelumnya, yang akan berakibat meningkatnya biaya dan akhirnya menurunkan profitabilitas. Pada bank syariah, dana nasabah dikelola dalam bentuk titipan maupun investasi. Cara titipan dan investasi jelas berbeda dengan deposito pada bank konvensional dimana deposito merupakan upaya mem-bungakan uang. Konsep dana titipan berarti kapan saja si nasabah membutuhkan, maka bank syariah harus dapat memenuhinya, akibatnya dana titipan menjadi sangat likuid. Likuiditas yang tinggi inilah membuat dana titipan kurang memenuhi syarat suatu investasi yang membutuhkan pengendapan dana. Karena pengendapan dananya tidak lama alias cuma titipan maka bank boleh saja tidak memberikan imbal hasil. Sedangkan jika dana nasabah tersebut diinvestasikan, maka karena konsep investasi adalah usaha yang menanggung risiko, artinya setiap kesempatan untuk memperoleh keuntungan dari usaha yang dilaksanakan, di dalamnya terdapat pula risiko untuk menerima kerugian, maka antara nasabah dan banknya sama-sama saling berbagi baik keuntungan maupun risiko.

4. Resiko Operasional (operational risk) Menurut definisi Basle Committe, resiko operasional adalah resiko akibat dari kurangnya sistem informasi atau sistem pengawasan internal yang akan menghasilkan kerugian yang tidak diharapkan. Resiko ini lebih dekat dengan keasalahan manusiawi (human error), adanya ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kegagalan sistem atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank. Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan antara bank syariah dan bank konvensional terkait dengan risiko operasional

5. Risiko Hukum Risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek yuridis. Kelemahan aspek yuridis antara lain disebabkan adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau lemahnya perikatan seperti tidak terpenuhinya syarat sahnya kontrak. Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan antara bank syariah dan bank konvensional terkait dengan risiko hukum.

6. Risiko Reputasi Risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya publikasi negatif yang terkait dengan usaha bank atau persepsi negatif terhadap bank. Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan antara bank syariah dan bank konvensional terkait dengan risiko reputasi.

7. Risiko Stratejik Risiko yang antara lain disebabkan adanya penetapan dan pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat atau kurang responsifnya bank terhadap perubahan eksternal. Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan antara bank syariah dan bank konvensional terkait dengan risiko stratejik.

8. Risiko Kepatuhan Risiko yang disebabkan bank tidak memenuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku. Tidak ada perbedaan yang cukup signifikan antara bank syariah dan bank konvensional terkait dengan risiko kepatuhan.

Apabila dipetakan terhadap produk-produk perbankan syariah maka risiko-risiko yang mungkin timbul adalah sebagai berikut :

1. Tabungan: Risiko Likuiditas dan Risiko Operasional

2. Deposito: Risiko Likuiditas dan Risiko Operasional

3. Giro: Risiko Likuiditas dan Risiko Operasional

4. Pembiayaan Murabahah: Risiko Pembiayaan dan Risiko Hukum

5. Salam: Risiko Pembiayaan dan Risiko Operasional

6. Rahn: Risiko Operasional dan Risiko Pasar

7. Ishtisna: Risiko Pembiayaan dan Risiko Operasional

8. Pembiayaan Mudharabah: Risiko Pembiayaan dan Risiko Hukum

9. Pembiayaan Musyarakah: Risiko Pembiayaan dan Risiko Hukum

Adanya risiko-risiko bagi bank tersebut bukan berarti bahwa produk tersebut tidak aman (unsecured). Bank Syariah sudah pasti telah memperhitungkan risiko-risiko ini sebelum produk tersebut disampaikan kepada masyarakat. Masyarakat tidak perlu khawatir pula, karena dalam pelaksanaan operasionalnya, seluruh bank syariah diawasi. Lembaga-lembaga pengawasan yang memastikan setiap bank syariah dapat mengendalikan risiko dengan baik antara lain Dewan Komisaris, Dewan Pengawas Syariah, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan.

Manajemen Risiko Pembiayaan Bank Syariah Pembiayaan yang memberikan hasil tetap didapatkan dari pembiayaan yang berakad jual beli (tijarah) dan sewa menyewa (ijarah). Sementara pembiayaan yang memberikan hasil tidak tetap didapatkan dari pembiayaan yang berakad bagi hasil (syirkah). Berdasarkan dua hal tersebut, maka produk pembiayaan di bank syariah akan memberikan risiko yang berbeda antara akad yang satu dengan akad yang lainnya, sehingga dengan demikian manajemen resiko pembiayaan dibank syariah sangat berkaitan dengan risiko karakter nasabah dan risiko proyek. Risiko karakter berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan karakter nasabah. Sementara risiko proyek berkaitan dengan karakter proyek yang dibiayai. Risiko karakter nasabah dapat dilihat dari aspek : skill, reputasi, dan origin. Sementara resiko proyek yang dibiayai dapat dilihat dari ciri-ciri atau atribut proyek. Ciri-ciri atau atribut proyek yang harus diperhatikan untuk meminimalkan resiko adalah : sistem informasi akuntansi, tingkat return proyek, tingkat resiko proyek, biaya pengawasan, kepastian hasil dari proyek, klausul kesepakatan proyek, jangka waktu kontrak, arus kas perusahaan jaminan yang disediakan, tingkat kesehatan proyek dan prospek proyek.

Peran Dewan Pengawas Syariah Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) memiliki peran penting dan strategis dalam penerapan prinsip syariah di perbankan syariah. DPS bertanggung jawab untuk memastikan semua produk dan prosedur bank syariah sesuai dengan prinsip syariah. Karena pentingnya peran DPS tersebut, maka dua Undang-Undang di Indonesia mencantumkan keharusan adanya DPS tersebut di perusahaan syariah dan lembaga perbankan syariah, yaitu Undang-Undang UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Dengan demikian secara yuridis, DPS di lembaga perbankan menduduki posisi yang kuat, karena keberadaannya sangat penting dan strategis. Berdasarkan kedua Undang-Undang tersebut kedudukan DPS sudah jelas dan mantap serta sangat menentukan pengembangan bank syariah dan perusahaan syariah di masa kini dan masa mendatang. Fungsi dan peran DPS di bank syariah, memiliki relevansi yang kuat dengan manajemen risiko perbankan syariah, yakni risiko reputasi, yang selanjutnya berdampak pada risiko lainnya seperti risiko likuiditas. Pelanggaran syariah complience yang dibiarkan atau luput dari pengawasan DPS, akan merusak citra dan kredibilitas bank syariah di mata masyarakat, sehingga dapat menurunkan kepercayaan masyarakat kepada bank syariah bersangkutan. Untuk itulah peran DPS di bank syariah harus benar-benar dioptimalkan, kualifikasi menjadi DPS harus diperketat, dan formalisasi perannya harus diwujudkan di bank syariah tersebut

How’s Photogrammetry Technology makes Resident Evil VII even more amazing

Resident Evil 7 started conceptual development in 2013, and started actual production in January 2014. PSVR was decided for the project in November 2014, and they used The Kitchen Demo as a testing the water build to both tease the basic concept of RE7 and how it worked with VR.

Capcom talks about their experience with VR to other companies and gives tips for those who want to develop VR games for PSVR. They mention if making a longer game, like they are with RE7, it is important to give the user options due to VR tiredness, some have no problem while others get sickness, etc. So for RE7 they’ve been testing and making changes to it all throughout development, and recently implemented VR options for speed, acceleration, and more. But also they let users go in and out of VR mode at any time, in the middle of gameplay you can pause and switch on or off to VR mode on PS4 if the gamer wishes to, and they can switch back at anytime to the other. They believe giving options is important, and the content of the game is the same whether you play in VR or not, which they think is important to make users not locked out of content just because they’re not playing in VR, as some can’t handle or afford that and VR should be focused on user experience. They also give a lot of technical information of how they handle depth, lighting, etc., for VR, and elements that developers may not initially think about which effects users in VR.

Depth of field is important, and though they have a VR and non-VR at any time mode and the content is changed, there are slight variations made to the game in both modes to best support both modes. They mention some gameplay elements are slightly altered to make best use of most modes of play, but much of the change is mostly technical. An example they give is that their item inventory in RE7 looked like it was a 2D image in front of everything else in VR, which made it look unnatural, so they made alterations when in VR mode game to make it fit in the world much better and have more 3D depth when in VR. Melee weapons, like the axe, were also close to the player vision and looked weird to everything else and lacked depth, so they made some visual changes to make it look a lot better in VR as well.

They showed some shots and how they created their character, Jack Baker, aka ‘Family Man.’Here’s a series of shots of how they did his model:

riccardo-minervino-new-hair-05

They also made a ‘Welcome to the Family, Son!’ T-Shirt:

-The method of how they do it in RE7 is through photogrammetry, They’ve made an advanced method of photogrammetry for games in RE7’s RE Engine. It is 3D scan technology which allows the computer to generate a model and textures by rapidly taking pictures of a person/object from all angles in rapid succession and generating the model and textures from those photographs, which are then touched up by 3D modelist in the follow-up. They have a few different methods to generate the models from the data for different type of things, but the end result is the same.

-For RE7, the reason for introducing this technology is because it got to a point where the technology they developed could create high-quality, equal to that of human hands effort, at a fraction of the development time, which allows them to make a lot of high-quality assets much more rapidly and make much more detailed environments and models, meaning they can make low-cost high-quality model data at a much faster rate than could be done previously. They mentioned the method could work with any type of photograph and they tested all sorts of different things for what caused the best results. Even taking shots at different angles with an iphone camera could work, but the quality would be a bit lower. They found a few best methods for RE7, but mention they found some camera techniques that had creepy results which they have put into practice for some of the elements of RE7, it creates a very uncanny effect.

-Capcom created a full-fledged 3D scan studio for RE7 they plan to use with future projects, as well as the RE Engine itself. They bought over 100 different types of cameras,

-3D modelist still on board for the project, since there are certain aspects the system has difficulty with, like hair, and having fantastical elements are also important, so there will be need still of 3D modelist in the near future. This isn’t a method to get rid of them.

-They tested this technology a bit in Umbrella Corps, but it had limited use in the Unity Engine, which is why they worked to make it completely compatible with the RE Engine they were working on.

-They say a little over half of RE7’s assets were created using this method.

-They talk about things that would be harder to make in RE7 with this system, such as creatures who are not humanoid or zombies. They tease that RE7 indeed does have some of those type of monsters certainly, some of it was done by hand with 3D modelist if it was too impossible to recreate in reality, while others were done by tricky practical effects and make-up artist. They say the atmosphere of RE7 is really important, and some of the techniques they used made the development at times feel more like they were working on a horror movie than a horror game, as they’d have people dressed on set and hiring actors and using techniques to make such creatures in person.

-A word to people who try to follow what they do; the quality of the model will come to to the quality of the actor, make-up, etc. The system helps animate as well, so having actors who can act is actually really important.

-For development of the environments, they did a lot of location shooting. They went to various creepy areas in Japan, including Nara in Japan, and took a lot of different angled shots of things for their systems. They made sure to capture a lot of specific things, like a deer head, lanterns, gardens, They used equipment to combine several cameras together to take a shot at once from different angles simultaneously and automatically adjust brightness, color, focus, etc. They also worked with a lot of locations and set-up ‘miniature studios’ in various locations to take a lot of shots away from their actual studio.

-Now, there was some difficulty. The setting of RE7 is Louisiana in America. While it’s not uncommon to go overseas for scouting with projects, it was completely impractical to take all of this equipment over there to go scouting. They did do some outsourcing, but a lot of it was on their own shoulders. They scouted Southern USA and decided which things to take shots for and model from hand and which things to try and use their system for. Also in the United States there’s a bigger culture for filming. they worked with some people in the Hollywood scene to use southern houses and other locations for use in their game. Copyright of things they were taking photos of was one other extensive area they had to research and work with Hollywood studios to help achieve.

-They did a lot of unusual photography as well. They mention they did work for example in a meat processing plant. Some things they even used Claymation and other effects to achieve.

-To create some things involved Frankenstein monster-ing varying things to create a whole. He teases as an example one monster in the game was constructed of a lot of different pieces of meat they got from the meat processing plant.

-The director says while the system certainly had its difficulties, it was a lot of fun to do and they hope some of the unorthodox ways they made RE7’s world helps to make a high-quality, detailed, and a video game world unlike any other that gamers have experienced. The method even with its difficulties did actually save them a lot of time and money, cutting down the time it would of taken otherwise to make so many assets and of such quality by 40%. He did point out the system would definitely not work for every game, but it can be helpful to certain type of games and he believes has a place in horror games going forward. He says there’s good chemistry and bad chemistry for such a system, while it can save in costs and development time, it has its own challenges, and can fit some projects like a glove and others it wouldn’t fit at all.

Alat-alat Menggambar Teknik Mesin

Dalam menggambar teknik mesin diperlukan beberapa alat-alat gambar dan teknik menggambar itu sendiri. berikut ini kami sampaikan teknik dasar menggambar teknik mesin. dari persiapan alat sampai praktek menggambar. Berikut ini adalah alat yang diperlukan untuk menggambar tekni mesin :

Jenis Kertas Menggambar Teknik

Berdasarkan jenis kertasnya, kertas gambar yang dapat digunakan untuk menggambar teknik adalah:

  1. Kertas manila1) Kertas Padalarang.
  2. Kertas Strimin
  3. Kertas roti
  4. Kertas Kalki

Ukuran Kertas untuk Menggambar Teknik

Ukuran gambar teknik sudah ditentukan berdasarkan standar. Ukuran pokok kertas gambar adalah A0. Ukuran A0 adalah 1 m2 dengan perbandingan 2 : 1 untuk panjang : lebar. Ukuran A1 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A0. Ukuran A2 diperoleh dengan membagi dua ukuran panjang A1. Demikian seterusnya. Ukuran kertas gambar dapat  dilihat  pada  tabel  5.1.  Sedangkan perbandingan ukuran kertas gambar dapat dilihat dari gambar 5.1.

Seri Ukuran Kertas Ukuran Garis Tepi
Kiri Kanan
A0 1.189 x 841 20 10
A1 841 x 594 20 10
A2 594 x 420 20 10
A3 420 x 297 20 20
A4 297 x 210 15 5
A5 210 x 148 15 5

Tabel 5 1 Kertas gambar berdasarkan ukuran

4

Gambar 5 1. Cara penempelan kertas di atas meja gambar non magnetik

Pensil Gambar

Pensil  adalah  alat  gambar  yang  paling  banyak  dipakai  untuk latihan mengambar atau menggambar gambar teknik dasar. Pensil gambar terdiri dari batang pensil dan isi pensil.

Pensil Gambar Berdasarkan Bentuk

™ Pensil Batang

Pada pensil ini, antara isi dan batangnya menyatu. Untuk menggunakan pensil ini harus diraut terlebih dahulu. Habisnya isi pensil bersamaan dengan habisnya batang pensil. Gambar pensil batang dapat dilihat pada Gambar 5.2.
™  Pensil mekanik

5

Gambar 5 2 Pensil batang

Pensil mekanik, antara batang dan isi pensil terpisah. Jika Isi pensil habis dapat diisi ulang. Batang pensil tetap tidak bisa habis. Pensil mekanik memiliki ukuran berdasarkan diameter mata pensil, misalnya 0.3 mm, 0.5 mm dan 1.0 mm. Gambar pensil mekanik dapat dilihat pada Gambar 5.3.

6

Gambar 5 3. Pensil mekanik

Pensil Gambar Berdasarkan Kekerasan

Berdasarkan kekerasanya pensil gambar dibagi menjadi pensil keras, sedang dan lunak.

jenis-pensil-berdasarkan-kekerasan

Tabel 5 2. Pensil berdasarkan kekerasannya

Untuk mendapatkan garis dengan ketebalan yang  merata dari ujung ke ujung, maka kedudukan pensil sewaktu menarik garis harus dimiringkan 60o dan selama menarik garis sambil diputar dengan telunjuk dan ibu jari (lihat Gambar 5. 4.)

8

Gambar 5 4. Cara menarik garis

Rapido

Penggunaan rapido untuk menggambar dengan teknik tinta dianggap lebih praktis dari pada dengan trekpen. Gambar rapido dapat dilihat pada Gambar 5.5.

9

Gambar 5 5. Rapido

Penggaris

Penggaris  yang  sering  digunakan  untuk  menggambar  teknik adalah penggaris –T dan penggaris segitiga.

10

Gambar 5 6. Penggaris T dan sepasang penggaris segitiga.

Penggaris -T

Penggaris T terdiri dari dua bagian, bagian mistar panjang dan bagian kepala berupa mistar pendek tanpa ukuran yang bertemu membentuk sudut 90o.

Penggaris Segitiga

Penggaris segitiga terdiri dari satu penggaris segitiga bersudut 45o,

90o,  45o    dan  satu  buah  penggaris  bersudut  30o,  90o    dan  60o. Sepasang penggaris segitiga ini digunakan untuk membuat garis-garis

sejajar, sudut-sudut istimewa dan garis yang saling tegak lurus.

11

Gambar 5 7. Cara menggunakan penggaris-T

12

Gambar 5 8. Cara menggunakan penggaris segitiga

Jangka

Jangka adalah alat gambar yang digunakan untuk membuat lingkaran  dengan  cara  menancapkan  salah  satu  ujung  batang  pada kertas gambar sebagai pusat lingkaran dan yang lain berfungsi sebagai pensil untuk menggambar garis lingkarannya. Gambar 9 memperlihatkan beberapa jenis jangka.

13

Gambar 5 9. Jenis jangka

Kedukukan pena tarik sewaktu menarik garis sebaiknya miring 60o terhadap meja gambar, seperti Gambar 5.10. cara menggunakan jangka ditunjukkan pada Gambar 5.11.

Gambar 5 10. Kedudukan pena tarik saat menarik garis serta Cara menggunakan jangka

14

Gambar 5 11. Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung

Penghapus dan alat pelindung penghapus

Ada dua jenis penghapus, yaitu penghapus lunak dan penghapus keras. Penghapus lunak untuk menghapus gambar dari pensil dan penghapus keras untuk menghapus gambar dari tinta. Agar gambar yang

akan dihapus tepat dan tidak menghilangkan gambar yang lain, maka

digunakan plat pelindung penghapus seperti Gambar 5.13.

Gambar 5 12. Membuat lingkaran besar dengan alat penyambung

15

 

Alat-alat Penunjang lainnya

Ada beberapa alat penunjang gambar teknik lainnya yang kadang- kadang diperlukan didalam menggambar adalah :

Busur derajat

Busur derajat digunakan untuk mengukur dan membagi sudut. Lihat

Gambar 5.14.

17

Sablon huruf dan angka adalah sebuah alat gambar yang digunakan untuk menggambar huruf dan angka, agar diperoleh tulisan yang rapi dan seragam dan mengikuti standar ISO.Gambar 5 13. Busur derajat f)   Sablon huruf dan angka

Mal lengkung

Mal lengkung digunakan untuk membuat garis lengkung yang tidak dapat dibuat dengan jangka. Dalam satu set mal lengkung ada 3 jenis mal, lihat Gambar 5.15

Gambar 5 14. Mal lengkung

18

Gambar 5 15. Contoh penggunaan mal lengkung

Mal bentuk

Untuk membuat gambar geometri dan simbol-simbol tertentu dengan cepat, maka digunakan mal bentuk.

20

Gambar 5 16. Mal bentuk geometri

Meja Gambar

Meja gambar adalah meja yang digunakan sebagai alas menggambar. Meja gambar terdiri dari rangka meja gambar dan daun meja gambar. Tidak seperti meja biasa, meja gambar dapat diubah-ubah ketinggian dan kemiringan daun mejanya. Bahan daun meja ada bermacam-macam, yaitu : daun meja dari papan non magnetik, papan berlapis magnet dan kaca rayben

21

Gambar 5 17. Meja gambar

Mesin Gambar

Mesin gambar adalah mesin manual yang digunakan untuk memudahkan menggambar. Mesin  gambar dapat  menggantikan beberapa fungsi alat gambar lainnya seperti busur derajat, sepasang

penggaris segitiga dan mistar T. Berdasarkan bentuknya ada dua jenis mesin gambar, yaitu: mesin gambar rol dan mesin gambar lengan.

22

Gambar 5 18. Mesin gambar lengan

23

Gambar 5 19. Mesin gambar rol

Dead Island Trailer on E3, Look How Fun and Ridiculous it is !!!

Dead Island 2 is an upcoming action role-playing survival horror video game developed by Sumo Digital and published by Deep Silver for Microsoft Windows, PlayStation 4, and Xbox One. The game was originally being developed by Yager Development, until Sumo Digital took over development in March 2016. It is the sequel to 2011 video game Dead Island and the third major installment in the Dead Island series. The game’s main storyline is set several months after the events of Dead Island and Escape Dead Island. Unlike its predecessors, which took place on islands as the titles state, Dead Island 2 takes place in locations in CaliforniaDead Island 2 features a new open world. The game takes place in Los Angeles, San Francisco, and an undisclosed third location in California, unlike the first game which was set on the island of Banoi off the coast of Papua New Guinea. The game’s combat has different mechanics than its predecessors. Dead Island 2 also includes several features from its predecessors, such as the Rage system, which gives the player a temporary boost, and the crafting system. Its story began several months after the events of Dead Island, the United States Armed Forces has put California under a full quarantine restricted zone due to a new zombie outbreak. It is yet to be known how the infection started.

Techland was originally set to develop Dead Island 2, but instead they decided to focus on developing Dying Light with Warner Bros. Interactive Entertainment[2] Deep Silver went looking for a developer until Yager Development pitched the game to Deep Silver in Summer 2012 and got the deal. As announced at Sony’s E3 2014 media briefing, Dead Island 2 will be more vibrant than its predecessors.The game was originally scheduled for a spring 2015 release.

At Gamescom 2014, Deep Silver demonstrated gameplay footage from an early version of the game. According to the presented content, the game is set in California, including landmarks such as the Santa Monica Pier and Hollywood, as well as many locations in San Francisco. Similarly, only a fraction of the weapon modifications and the new zombies have been shown at the stage. Furthermore, Deep Silver stated that the game will feature four playable characters,though only two were shown at the Gamescom Demo. It will also feature eight-player cooperative multiplayer.

In July 2015, Deep Silver announced that Yager has been dropped from developing the game and development will be moved to another unnamed developer.The managing director of Yager Development, Timo Ullmann, later stated that the company’s departure from the project occurred because “Yager and Deep Silver’s respective visions of the project fell out of alignment”. As a result, the game’s separate development team, Yager Productions GmbH, filed for insolvency in July 2015.[On 9 March 2016, UK-based studio Sumo Digital announced that it took over the development. At this time, the game remains without a release date

The development of Dead Island 2 has been taken over by Sumo Digital, the UK studio behind Sonic & All Stars Racing Transformed and LittleBigPlanet 3. Publisher Deep Silver originally tapped Spec Ops: The Line developer Yager Development for the sequel, but the two parted ways in July 2015, citing a difference in vision as the reason. In a statement to MCV, Koch Media–parent company of Deep Silver–said bringing in Sumo Digital “made perfect sense.” “Sumo showed so much understanding of the brand, had creative ideas and an excellent vision that was aligned with our own,” said chief executive Klemens Kundratitz. “It just made perfect sense for us to move the project to them. We will reveal more details at a later stage, but for now I’d like to say that we are obviously super excited about the progress that we are making with them.”

In addition to LittleBigPlanet 3 and Sonic & Sega All Stars Racing, Sumo Digital has also had a hand in the development of Disney Infinity 3.0 and Forza Horizon 2 Presents Fast & Furious. It is also contributing to Microsoft’s Crackdown 3 and will create the PC version of Rock Band 4 if it is successfully crowdfunded. “It’s an honour to be charged with the evolution of such an important franchise in Deep Silver’s catalogue,” said Paul Porter, chief operating officer of Sumo. “We’re looking forward to exceeding fan expectation with an ambitious design that we’re confident will take bone-crunching, visceral, zombie action to a whole new level.” Dead Island 2 was officially announced during Sony’s E3 2014 press conference for PlayStation 4. The game is also coming to Xbox One and PC, but its beta will be launched first on PS4. Original Dead Island 2 developer Yager Productions, which is a sub-division withinYager Developments, filled for insolvency following the dissolution of its partnership with Deep Silver.

Reference :

  1. http://www.gamespot.com/articles/dead-island-2-development-resumes-with-littlebigpl/1100-6435521/

Melakukan Spesifikasi Material Properti Bangunan Menggunakan Software Structural Analysis Program (SAP2000)

SAP 2000 merupakan program untuk perhitungan kekuatan struktur khususnya bangunan-bangunan bertingkat tinggi dan jembatan. Program ini sangat di minati oleh semua civil engineer karena sangat mudah dipelajari dan simpel digunakan. Bayangkan sebelum adanya program SAP 2000 ini, para civil engineer sering menggunakan rumus analisis struktur yang membutuhkan waktu lama. Setelah adanya program ini dapat mempercepat hasil dari analisis. Kinerja dari SAP 2000 ini adalah membuat model-model struktur atau portal bangunan. kemudian diberi beban-beban kerja seperti beban hidup, beban mati, beban gempa, beban angin dan sebagainya. Output dari program ini adalah Momen, gaya geser, dan gaya normal yang diperlukan untuk kerperluan mendesain kebutuhan tulangan pada elemen struktur. Saya masih ingat sekali dulu saat pertama kali masuk kuliah teknik sipil adalah mencari tahu dan belajar tentang tutorial dasar SAP 2000. Karena software ini merupakan ikonnya orang teknik sipil. sofware ini merupakan bukti kemajuan teknik sipil dari segi analisis struktur.

Pada dasarnya analisis struktur adalah ilmu dasar dari seorang insinyur, di mana pada saat kuliah selalu diajarkan tentang dasar atau konsep ilmu struktur. Bagi teman-teman yang ingin belajar mulai dasar program andalan dari orang sipil ini, kami akan berbagai tips mudah mempelajarinya. yah tutorial dasar ini merupakan cara mudah dan simpel untuk belajar dasar-dasar program SAP 2000.  Bagi anda yang belum mempunyai software ini kami sarankan untuk menginstal yang versi 14. Sebenarnya untuk semua versi sama aja dan menu-menu yang digunakan pun juga sama. hal ini tergantung dari selera dan kebiasaan saja. Pada artikel ini kami menggunakan program SAP 2000  dengan model struktur portal standar agar lebih mudah dipahami.

Sebelum itu download dulu softwarenya disini :

SAP2000 7.4 Student Version
http://downloads.tumcivil.com/download/AIT/Sap2000.zip
    1. Buka SAP 2000 setelah terbuka langsung klik new model yang terletak di kiri atas. maka akan muncul windows seperti di bawah ini. Yang perlu diperhatikan adalah satuan yang akan kita gunakan. pada contoh ini menggunakan satuan ton, meter. kemudian untuk membuat model portal maka kita gunakan “Grid Only”
    1. Akan keluar kotak window untuk pengaturan grid yang akan dibuat. untuk membuat portal sederhana maka kami memberikan contoh sebagai berikut.klik Ok

    1. Menentukan define material dengan menuju menu Define> material> akan muncul kotak window dan pilih add new material.   
    2. Pengaturan define material pada contoh ini menggunakan Berat jenis beton 2,4 t/m3 dan F’c 25 Mpa. Setelah pengaturan selesai, klik Ok.
  • Pengaturan define>Section propertis> frame section> add new properti. Ikuti pengaturan sesuai gambar berikut.
  • Pengaturan section name. pada pengaturan ini ada 3 bagian yang diatur yaitu section name, material dan dimensi section. Setelah diatur klik Ok.
  • Karena elemen struktur pada portal ini terdapat dua yaitu kolom dan balok, maka frame sectionnya juga harus dua yaitu kolom dan balok.
  • Pengaturan Define Load Pattern. Beban yang digunakan pada contoh ini adalah beban mati, hidup, dan gempa. Untuk beban mati diisi dengan angka 1 sedangkan beban yang lain 0. Maksud dari angka 1 adalah program SAP 2000 otomatis menghitung sendiri beban mati sendirinya. klik Ok.
  • Pengaturan Define Load Combination. klik Add new Combo. Pada contoh ini menggunakan 2 kombinasi pembebanan yaitu Comb1 (1.2 D) dan Comb2 (1.2D+1.6L). klik Ok
  • Penggambaran frame section sesuai bentuk portal. Menu Draw>Draw frame/cable/tendon. Akan muncul kotak dialog seperti pada gambar di bawah ini. Pertama yang digambar adalah section balok. Maka cek “section” pada kotak propertis.
  • Ulangi langkah nomer 10 untuk membuat frame section pada kolom sehingga didapatkan gambar seperti ini.
  • Membuat jenis tumpuan pada portal. Pada contoh ini menggunakan tumpuan jepit-jepit. Blok kedua tumpuan pada SAP. kemudian masuk ke menu Assign>Joint> restraint. 
  • Pemberian beban hidup pada balok portal. Blok pada frame section di balok. Menu Assign> Frame Load> Gravity Untuk pemberian beban merata dengan arah gravitasi bumi. Permisalan untuk beban hidup adalah 12 t/m. 
  • Menu Analysis > Run Analysis. Modal dibuat do not run. Klik Run.
  • Untuk melihat hasil analisis dari program SAP 2000 ini bisa dilihat dengan cara Menu Display> show force/streses> Frame/cables. Untuk melihat akibat momen bisa dipilih “momen 3-3”. sedangkan untuk melihat akibat gaya geser bisa dipilih “shear 2-2”. kemudian klik Ok
  • Berikut hasil dari analisis akibat gaya momen dan gaya geser.
Dari hasil gambar diagram momen dan gaya geser tersebut bisa dilihat besarnya momen dan gaya geser yang terjadi pada struktur tersebut. Hasil momen tersebut digunakan untuk perencanaan struktur untuk menghitung kebutuhan tulangan dan kekuatan bangunan.
Screen shoot analisis Gedung yang ditinjau ditunjukkan sebagai berikut :
Tutorial SAP 2000
Gambar 2. Pemodelan Struktur Gedung Perkantoran 8 Lantai

Pemodelan struktur gedung yang dirancang mampu menahan gempa rencana sesuai peraturan yang berlaku sesuai SNI 03-1726-2012 tentang Tatacara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung. Dalam peraturan ini gempa rencana ditetapkan mempunyai periode ulang 500 tahun, sehingga probabilitas terjadinya terbatas pada 10 % selama umur gedung 50 tahun.

Tutorial SAP 2000
Gambar 3. Pemodelan Diafragma Kaku pada Plat Lantai
Pada SNI Gempa 1726-2012 , pasal 5.3.1 disebutkan bahwa lantai tingkat, atap beton dan sistem lantai dengan ikatan suatu struktur gedung dapat dianggap sangat kaku (rigid) dalam bidangnya dan dianggap bekerja sebagai diafragma terhadap beban gempa horisontal.
Belajar SAP 2000
Gambar 4. Deformasi Struktur dan Waktu Getar Bangunan untuk Mode 1
Denah, konfigurasi, dan kekakuan struktur harus didesain sedemikian rupa sehingga gedung tidak terlalu fleksible dan waktu getar struktur tidak melebihi standard yang ditetapkan. Selain itu untuk mencegah adanya puntiran (rotasi) gedung pada Mode 1.
Belajar SAP 2000
Gambar 5. Input Gempa Statik Ekuivalen (Otomatis) dengan Auto Lateral Load
Cara ini dilakukan dengan user coefficient – auto lateral load, dengan memberikan angka faktor respon gempa (C) pada load case gempa arah x dan y, sehingga beban gempa sebesar Fi secara otomatis sudah bekerja pada pusat massa gedung tiap lantai.
Belajar SAP 2000
 Gambar 6. Input Beban Gempa Statik Ekuivalen secara Manual pada Tiap lantai
Gaya gempa statik ekuivalen bekerja pada pusat massa bangunan tiap lantai dengan besar 100% arah yang ditinjau dan 30% arah tegak lurusnya. Tinjauan beban gempa dari 2 arah tersebut untuk mengantisipasi datangnya gempa dari arah yang tidak bisa diperkirakan dengan pasti.
Belajar SAP 2000
Gambar 7. Input grafik Respon Spektrum Gempa
Grafik respon spektrum yang diinput berdasarkan zona gempa dan jenis tanah tempat lokasi bangunan berada.
Belajar SAP 2000
Gambar 8. Input Akselerogram Gempa Dinamik Time History
Perhitungan respons dinamik struktur gedung terhadap pengaruh gempa rencana dilakukan dengan metoda analisis dinamik 3 dimensi berupa analisis respons dinamik linier dan non-linier time histoy (riwayat waktu) dengan suatu akselerogram gempa yang diangkakan sebagai gerakan tanah masukan.
Belajar SAP 2000
Gambar 9. Besarnya Simpangan Gedung yang Terjadi Akibat Gempa
Besarnya simpangan yang terjadi harus dibatasi berdasarkan persyaratan batas layan dan batas ultimit untuk mencegah ketidaknyamanan penghuni, keretakan beton, kerusakan struktur dan non struktur.
Belajar SAP 2000
Gambar 10. Analisis Tegangan pada Plat Lantai

Nilai tegangan yang bekerja pada plat akibat beban hidup dan mati dapat diketahui dengan Shell Stress kemudian besarnya momen yang muncul dapat dianalis untuk desain penulangan plat untuk arah memanjang dan melintang.

Belajar SAP 2000
Gambar 11. Desain Penulangan Arah Memanjang
Luas tulangan yang dibutuhkan untuk arah memanjang dan melintang dapat diketahui secara otomatis, kemudian dikonversi menjadi berapa banyak jumlah tulangan yang akan digunakan ]sesuai ]ukuran diameter tulangan di pasaran.
Belajar SAP 2000
 Gambar 12. Diagram Interaksi Kolom
Dari diagram interaksi tersebut dapat diketahui hubungan antara momen dengan gaya aksial yang bekerja pada kolom
Belajar SAP 2000
Gambar 13. Informasi Luas Tulangan, Momen dan Gaya Geser yang Ditinjau
Informasi yang muncul setelah run analisis beberapa dapat dikontrol dengan hitungan manual, jika hasil yang muncul sudah benar/ mendekati, maka selanjutnya output tersebut dapat diolah untuk desain struktur yang meliputi keamanan dimensi, penulangan, dll
Spesifikasi Material Baja Ringan
Material baja ringan memang berbeda dengan material baja biasa, pada material baja ringan mempunyai spesifikasi kekuatan lebih tinggi dari pada baja biasa. umumnya Spesifikasi minimum baja ringan yang dipakai (G550) adalah:

1. Kekuatan Leleh Minimum : 550 MPa
2. Tegangan Maksimum : 550 MPa
3. Modulus Geser : 50.000 MPa
4. Modulus Elastisitas : 200.000 MPa

Baja ringan termasuk jenis baja cold form steel yakni jenis baja yang dibentuk setelah dingin. Pada tutorial ini, akan dipaparkan cara memasukan material properti untuk baja ringan pada SAP 2000.

1. Tentukan satuan yang digunakan menjadi Nmm

tutorial-SAP-baja-ringan

2. Pilih menu Define – Material

tutorial-SAP-baja-ringan

3. Pilih CLDFRM lalu klik modify/show material

tutorial-SAP-baja-ringan4.

4. Aktifkan cek list Orthotropic agar shear modulusnya bisa diisi

tutorial-SAP-baja-ringan

5. Isikan parameter seperti gambar di bawah ini

tutorial-SAP-baja-ringan

Selesai . Maka material properti baja ringan sudah ter-input keadalam software SAP2000

Referensi :

  1. Manual SAP 2000

Dosen ITB Luncurkan Buku Fisika Dasar Seribu Halaman Siap Unduh

 

Dosen Program Studi Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Prof. Dr. Eng. Mikrajuddin Abdullah meluncurkan buku elektronik Fisika Dasar jilid I yang dapat diunduh gratis lewat internet. Buku setebal seribu halaman tersebut ditujukan sebagai referensi belajar untuk mahasiswa tingkat pertama perguruan tinggi. Setelah digarap selama 12 tahun, pada Rabu (11/05/16) buku tersebut resmi beredar.

Isi materi buku disusun sesuai dengan materi kuliah di kampus. Letak kebaruannya ada pada contoh dan data asli bersuasana Indonesia. Misalnya pada soal yang terkait pesawat terbang dan bandar udara, penulisnya mengambil kasus dan ilustasi nyata dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Mikrajuddin juga menyisipkan sentuhan teknologi terkini seperti pemakaian alat Global Positioning System, teknologi nano, dan partikel Tuhan. Mikrajuddin memanfaatkan data dan ilustrasi untuk materi buku dari catatan keseharian dan risetnya sendiri. Lama penulisannya pun tidak ditargetkan. “Sabar saja kuncinya,” ujarnya.

Menurut Mikrajudin, ia membuat buku itu karena jenuh mengajar dengan buku-buku Fisika Dasar karya penulis luar negeri. “Selama 29 tahun mengajar, itu-itu saja bukunya, karangan Halliday-Resnick dan lainnya. Kenapa kita tidak buat sendiri?” ucapnya.

Ia ingin menulis buku yang dapat menonjolkan keindahan Fisika dari materi yang dipelajari. Selama ini, menurut Mikrajuddin, buku Fisika menakutkan orang karena banyak memakai rumus. Terlebih, banyak orang berkutat dengan rumus Fisika, tapi tak paham untuk apa fungsinya. Mikrajuddin menulis sekitar 2.000 halaman buku Fisika Dasar, yang terbagi atas dua bagian. Jilid kedua masih disiapkan dengan target selesai akhir 2016. Ide dan penulisan buku yang dilakukan sendiri secara non-komersial itu dibantu penata letak dan pengurus izin foto.

“Siapa pun bisa pakai dan memperbanyak, asal tidak untuk komersial,” kata Mikrajuddin. Buku Fisika Dasar jilid I bisa diakses di

https://drive.google.com/file/d/0B3b8pBt2LxtWSkhCeC1nWmNXNFE/view?usp=sharing.

Sumber :

  1. https://www.itb.ac.id/news/read/5164/home/dosen-itb-luncurkan-buku-fisika-dasar-siap-unduh

Rangkaian Akuisisi Data dan Instrumentasi Elektronik

Sistem Akuisisi Data adalah kumpulan komponen yang saling bekerja sama yang tujuannya melakukan pengumpulan, penyimpanan, pengolahan data, dan melakukan distribusi data untuk menghasilkan informasi yang bermakna dan berguna untuk proses pengambilan keputusan (decision making process).

Sistem akuisisi data dapat dikembangkan menjadi suatu sistem pengukuran/pengambilan data jarak jauh yang disebut telemetri, dengan menggunakan gelombang radio atau sinar infra merah yang biasanya disebut wireless data tranfer system.

Sistem akuisisi data digunakan untuk mengukur dan mencatat sinyal yang pada dasarnya diperoleh dengan dua cara.

  • Sinyal yang berasal dari pengukuran langsung besaran-besaran listrik. Besaran listrik itu bisa berupa tegangan, frekuensi, atau tahanan, dan hal-hal yang sering dijumpai dalam pengujian komponen elektronik, penelitian lingkungan, dan analisis kualitas.
  • Sinyal yang asal dari transduser, misalnya strain-gage, termokopel, dan lain-lain.

Sistem akuisisi data dapat dikelompokkan dalam dua kelas utama, yaitu sistem akusisi data analog, dan sistem akuisisi data digital.

  • Sistem akuisisi data analog mengukur informasi dalam bentuk analog, yaitu fungsi yang kontinyu terhadap waktu.
  • Sistem akusisi data digital mengukur informasi dalam bentuk digital, besaran yang terdiri pulsa-pulsa diskrit yang tidak kontinyu terhadap waktu.

Sistem akuisisi data analog terdiri dari semua atau sebagian elemen berikut ini.

  1. Transduser, untuk mengubah parameter fisik menjadi sinyal listrik.
  2. Rangkaian pengkondisi sinyal (signal conditioner)), untuk memperkuat, memodifikasi, atau memilih bagian tertentu dari itu.
  3. Alat peraga visual, untuk memonitor sinyal input secara kontinyu. Alat ini berupa Cathode Ray Oscilloscope (CRO) satu saluran atau multi saluran, CRO penyimpan, alat pencatat pada panel, peraga numerik, dll.
  4. Instrumen pencatat grafik.
  5. Instrumen pita magnetik.

Sistem akuisisi data digital terdiri dari semua atau sebagian elemen yang terlihat pada gambar diagram berkut ini.

DOK1CROP.jpg

Elemen-elemen sistem akuisisi data digital adalah:

  1. Transduser
  2. Rangkaian pengkondisi sinyal
  3. Multiplekser
  4. Signal Converter
  5. A/D Converter
  6. Perlengkapan pembantu
  7. Digital recorder

Sistem akuisisi data banyak digunakan dalam berbagai bidang industri dan ilmu pengetahuan, juga digunakan dalam SCADA (supervisory control and data acquisition), robotik, biomedikal, ruang angkasa, dan industri telemetri. Apakah sistem akuisisi data analog atau digital yang digunakan tergantung pada pengambilan data masukan apa yang diperlukan.
Secara umum, sistem akuisisi data analog digunakan bila memerlukan bandwidth yang lebar, atau bila memerlukan ketelitian lebih rendah yang dapat ditoleransi.
Sedangkan sistem akuisisi data digital digunakan bila proses fisik yang dimonitor berubah secara lambat (bandwidth sempit), dan bila memerlukan ketelitian tinggi serta biaya rendah untuk setiap kanal.

Sistem akuisisi data digital meliputi, menurut kerumitannya, sistem pengukuran dan pencatatan tegangan dc satu saluran sampai sistem saluran ganda otomatik yang rumit untuk mengukur sejumlah besar parameter masukan dibandingkan dengan preset sebelumnya dan melakukan komputasi serta pengambilan keputusan terhadap sinyal masukan.
Umumnya, sistem akuisisi data digital lebih rumit dari pada sistem akuisisi data analog, dan keduanya dinyatakan dengan instrumentasi yang terlibat dan volume serta kerumitan data masukan yang dapat ditanganinya.

Bentuk Sistem Akuisisi Data ada bermacam-macam, tergantung pada sifat datanya (banyaknya kanal, selang dinamiknya, kandungan frekuensinya) dan persyaratan aplikasinya. Persyaratan aplikasi itu termasuk resolusi dan akurasinya, juga lingkungan dimana sistem itu berada.

Sebuah perekam kanal tunggal dengan pembacaan langsung cukup untuk aplikasi yang sederhana, misalnya pada perekam grafik atau atau alat ukur. Untuk yang baik, diperlukan sistem dengan multi kanal yang rumit, dimana data di-sampling, diolah, dan dikirim ke pusat komputer. Dalam kuliah ini akan dipelajari sistem akuisisi data digital multikanal dan masalah-masalah yang terkait dengan sistem seperti itu.

Sebuah Sistem Akuisisi Data Digital secara aktual berupa interface antara lingkungan analog dengan lingkungan digital. Lingkungan analog meliputi transduser dan pengkondisi sinyal dengan segala perlengkapannya, sedangkan lingkungan digital meliputi Analog to Digital Converter.

Central Processing Unit ada yang menggunakan mikroprosesor, disebut sistem akuisisi data berbasis mikroprosesor, atau yang menggunakan mikrokontroler, yang merupakan pengembangan dari mikroprosesor yang dilengkapi dengan memori dan input-output dalam sebuah single chip yang dikemas lebih kecil dengan jumlah pin lebih sedikit, atau yang menggunakan programmable logic controller (PLC).

Ada juga sistem akuisisi data berbasis fuzzy logics.

Akuisisi Data merupakan sarana pengumpulan informasi. Biasanya, sistem akuisisi data yg digunakan di dalam industri merupakan sistem yang real time.

Sistem yang real time ini mempunyai ciri kemampuan untuk mengumpulkan data atau melakukan tugas kendali (kontrol) dalam selang waktu yang dapat diterima. Durasi selang waktu itu tergantung seberapa cepat sistem tersebut harus tanggap, yang merupakan fungsi dari persyatan kecepatan dan akurasi untuk aplikasi tertentu.

Perangkat keras yang digunakan untuk mengumpulkan data disebut sistem akuisissi data. Sistem akuisisi data berfungsi sebagai antarmuka (interface) antara dunia nyata (real world) parameter fisik, yang analog, dengan dunia komputer, yang digital. Pada gambar di bawah ini terlihat elemen-elemen yang biasanya terdapat dalam diagram blok sebuah sistem akuisisi data yang diaplikasikan dalam industri.

sad.jpg

Sistem akuisisi data merupakan sistem instrumentasi elektronik yang terdiri dari sejumlah elemen yang secara bersama-sama bertujuan melakukan pengukuran, menyimpan, dan mengolah hasil pengukuran.

Semua besaran fisik yang akan diukur, diamati, disimpan, dan dikontrol dapat berupa suhu, tekanan, cahaya , suara, dll. Di real world besaran fisik itu berbentuk analog. Sedangkan sistem akuisisi data berbasis mikroprosesor merupakan sistem digital, hanya dapat mengolah sinyal-sinyal listrik digital. Jadi besaran fisik analog harus dikonversi lebih dulu menjadi besaran listrik digital yang setara.
Sebuah sistem akuisisi data terdiri dari elemen-elemen utama: elemen masukan, elemen sampling, elemen kontrol, dan elemen keluaran.

Diagram blok sebuah sistem akuisisi data di atas ini menunjukkan bagian-bagian penting dari sistem yang mempunyai bermacam-macam transduser yang terhubung pada input rangkaian pengkondisi sinyal.

Tergantung pada sinyal transduser, input rangkaian pengkondisi sinyal dapat digunakan sebagai penguatan (amplification), offset, atau sebagai filter.

Gain dari rangkaian pengkondisi dapat dikendalikan oleh central processing unit (CPU) untuk mengatur input sesuai dengan level yang tepat. Sinyal-sinyal input itu kemudian disalurkan ke analog-to-digital converter (A/D converter) melaui sebuah multiplekser (selector switch) (MUX).

Bila data analog itu berbentuk sebuah gelombang sinusoida, maka sebuah bisa menggunakan low-pass filter untuk menghindari yang dinamakan aliasing effects. A/D converter mengkorversi sinyal analog menjadi sebuah sinyal digital yang selanjut diumpankan pada CPU. CPU itu yang mengendalikan, merekam, menganallisis, dan melapor/menampilkan data yang diakuisisi.

Data tersebut dapat digunakan dalam bentuk digital, atau dikonversi oleh sebuah D/A converter menjadi bentuk analog. Jika sinyal analog itu sinussoida, maka diperlukan sebuah correction filter pada output untuk membentuk-ulang (reshape) frequency response dari sistem.

Output yang analog itu dapat digunakan untuk mengendalikan sistem itu, atau output yang analog itu dapat juga dihubungkan dengan divais analog yang lain misalnya chart recorder, osiloskop, atau peralatan-peralatan ukur.

  • Elemen masukan terdiri dari bermacam-macam transduser, pengkondisi sinyal, dan multiplekser.
  • Elemen sampling terdiri dari filter low-pass, rangkaian S/H, A/D converter.
  • Elemen kontrol merupakan unit pengolahan sentral (Central Processing Unit/CPU).
  • Elemen keluaran terdiri dari D/A Converter, filter low-pass dan (sin x)/x correction, I/O, Modem, Storage device, Display device, dan Printout device.

Struktur Data Acquisition System tergantung pada besaran fisik yang akan diambil, variasi kecepatan perubahan, dan tujuan/fungsi sistem.

Macam-macam Data Acquisition System menurut strukturnya:

    • Closed Loop One Way Data Acquisition System

      One-way data acquition system mempunyai struktur yang sederhana, merupakan sebuah open loop system, biasanya digunakan terbatas untuk pengambilan/pembacaan besaran fisik yang diukur secara digital, yang untuk selanjutnya ditampilkan pada dis play (peraga) misalnya LCD, CRT, dan lain-lain, atau merekamnya dengan off-line processing, atau mencetaknya pada printer.

      Jika sistem akuisisi data ini berupa closed loop system, seperti yang terlihat pada gambar diagram blok di atas, maka hasil pembacaan data digunakan untuk pengendalian/pengontolan besaran tertentu, untuk melakukan setting suatu besaran pada level yang diinginkan, atau secara sederhana dapat dikatakan untuk meregulasi suatu besaran tertentu.

    • Multichannel Data Acquisition System

      Jika sejumlah besaran harus diambil/dibaca secara simultan (bergantian) maka digunakan yang dinamakan time division multiplexing untuk mengontrol pengambilan input. Multiplekser merupakan sebuah alat yang terdiri dari beberapa switch analog yang mempunyai output terhubung secara bersama membentuk sebuah output tunggal dan inputnya menentukan banyaknya input multiplekser itu.

      Membuka atau menutupnya switch dikendalikan oleh channel address dari input, yaitu logic input yang dikodekan dengan sejumlah bit. Satu bit address mengendalikan 2 channel, dan n bit dapat mengendalikan sebanyak 2n channel. Multiplekser umumnya 4, 8, atau 16 channel. Sebuah multiplekser 16 channel mempunyai 16 channel yang disimbulkan dengan channel 0 sampai dengan channel 15.
      Pada gambar di atas ini terlihat diagram blok sebuah multichannel data acquisition system. Dengan konfigurasi seperti ini, mikroprosesor menghasilkan:

      • sinyal kontrol untuk rangkaian sample-and-hold (S/H).
      • sinyal START untuk start konversi A/D converter, akhir konversi A/D converter ditandai dengan keluarnya EOC (end of conversion, sinyal EOC ini sebagai indikasi bahwa data itu valid.
      • sinyal channel address untuk pengendalian input dari multiplekser.

      Dengan memasok sinyal-sinyal itu, mikroprosesor mengatur dan mengendalikan operasi komponen-komponen dalam sistem. Jika diagram blok di atas diperhatikan, operasi sample-and-hold dilakukan setelah multiplekser analog. Dengan konfigurasi seperti ini, struktur ini mempunyai kelemahan, yakni tidak dapat melakukan pengambilan (pembacaan) data input lebih dari satu kanal dalam waktu yang bersamaan, maksudnya sekali operasi rangkaian sample-and-hold melakukan operasi pengambilan data secara bergantian.

    • Synchronous Data Acqisition System

      Seperti telah dijelaskan tadi, struktur sistem akuisi data multichannel mempunyai keterbatasan. Untuk mengatasi keterbatasan itu rangkaian S/H dipindah ke depan multiplekser analog pada masing-masing input. Sehingga diperlukan rangkaian S/H sebanyak jumlah input yang ada. Blok diagram sistem dengan struktur seperti ini terlihat pada gambar di atas.
      Pada sistem dengan struktur ini, dinamakan sistem akuisisi data synchronous, pengaturan input lebih baik karena dapat melakukan pengambilan dua data input atau lebih, selama rangkaian sample and hold dalam moda hold. Hal ini dapat dirasakan secara praktis dalam sinkronisasi antara control S/H dan start konversi ADC.

  • Fast Data Acquisition System

    Sistem akuisisi data kadang-kadang menerima sejumlah sinyal yang fluktuasinya sangat cepat. Menerima sinyal sepert ini, tidak hanya cukup menggunakan sistem akuisisi data multichannel yang menggunakan ADC yang serupa dengan sistem akuisisi data sebelumnya.
    Output dari digital FLASH ADC dimultipleks dengan sebuah multiplekser digital, pada gambar di atas ini terlihat ada tiga sinyal dengan fluktuasi yang sangat cepat diinputkan pada FLASH ADC melalui rangkaian sample and hold, data 12 bit dari tiap-tiap FLASH ADC diinputkaan pada multiplekser digital.

    FLASH ADC mempunyai conversion time yang sangat singkat (kecil), ditambah lagi secara fisik dan penngontrolan sama dengan konfigurasi struktur sistem akuisisi data synchronous, maka sistem akuisisi data fast ini dapat melakukan pengambilan data yang lebih baik terhadap sinyal-sinyal dengan fluktuasi yang sangat cepat.

DIAGRAM ALIR SISTEM AKUISISI DATA

Cara atau metoda untuk menjelaskan aliran prosedur dalam sistem akuisisi data dengan menggunakan yang dinamakan diagram alir (flowchart). Diagram alir sistem akuisisi data, merupakan diagram yang menggambarkan suatu proses atau algoritma.

A simple flowchart for computing factorial N (10!)

Berikut ini contoh Diagram Alir suatu sistem.

Example of a system flowchart

Berikut ini sebuah contoh kasus yang menarik untuk dibahas disini. Setelah meng-on-kan switch-nya, lampu tidak menyala. Maka diambilnya langkah-langkah untuk mengetahui mengapa lampu tidak menyala dan mencoba untuk memperbaikinya.

  • Langkah pertama adalah memeriksa apakah terpasang atau tidak lampunya. Kalau tidak terpasang, maka tindakannya memasanng lampu.
  • Kalau terpasang, maka langkah berikutnya memeriksa apakah lampu itu rusak atau tidak. Kalau rusak maka tindakannya mengganti dengan lampu baru.
  • Kalau tidak rusak, maka langkah selanjutnya beli lampu baru.

Langkah-langkah yang diambil untuk menyelesaikan suatu masalah dinamakan algoritma. Metoda algoritma ini cukup efektip untuk memecahkan suatu masalah. Langkah-langkah yang diambil untuk mengetahui mengapa lampu tidak menyala dapat digambarkan secara grafis dengan diagram alir sebagai berikut.

Diagram alir sering digunakan untuk menggambarkan algoritma secara grafis.
Diagram alir sistem akuisisi data digunakan untuk:

  1. Menganalisis sistem.
  2. Sarana komunikasi users dengan manajemen.
  3. Acuan bagi programmer.
  4. Pembuatan dokumentasi.

Di lingkungan sistem akuisisisi data, diagram alir sering digunakan untuk pembuatan analisis, perancangan, pembuatan dokumentasi, pengelolaan suatu proses dalam berbagai bidang.

Diagram alir digambarkan sebagai kotak-kotak dengan bermacam-macam bentuk, dan urutannya digambarkan dengan jalan menghubungkan kotak-kotak itu dengan anak panah. Untuk membuat diagram alir digunakan simbol-simbol yang menggambarkan sarana atau input yang dipakai, atau menggambarkan kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu output sesuai kebutuhan. Simbol-simbol itu terdiri dari bentuk-bentuk berikut ini.


Template for drawing flowcharts (late 1970s)
showing the different symbols

ELEMEN-ELEMEN PENUNJANG SISTEM AKUISISI DATA

Sistem terdiri dari sejumlah elemen atau komponen yang saling berhubungan yang satu dengan yang lain melakukan kerjasama untuk mencapai tujuan atau fungsi sistem. Elemen-elemen Data Acquisition System yang saling berhubungan yang satu dengan yang lain adalah sebagai berikut;

  1. Tranduser
    Transduser adalah elemen yang berfunsi untuk mengubah suatu besaran fisik menjadi besaran listrik. Transduser mengubah besaran mekanik menjadi menjadi besaran listrik yang dapat berupa tegangan atau arus liastrik. Transduser suhu mengubah besaran suhu (derajat suhu) menjadi besaran listrik berupa tegangan atau arus listrik.

    Dalam praktik banyak contoh transduser yang dipakai dalam sistem akuisisi data, misalnnya physically displacement transducer, humidity transducer, thercouple, accelerometer, tachometer, strain gage transducer, dan lain-lain.

    Spesifikasi transduser yang penting adalah kecepatan, ketelitian dan keandalamn.

  2. Operational Amplifier
    Tegangan atau arus listrik yang dihasilan sebuah tranduser itu biasanya kecil. Sedangkan komponen A/C converter yang digunakan dalam sistem akuisisi data bekerja dalam skala penuh, misalnya 0 s/d 5 volt, -5 s/d +5 volt, 0 s/d 10 volt dan sebagainya, tergantung pada moda input dan spesifikasi komponen yang dipakai. Oleh karena itu diperlukan yang dinamakan sebuah rangkaian signal conditioner, untuk memperkuat sinyal output dari transduser menjadi cukup besar untuk diumpankan pada A/D converter. Rangkaian signal co nditioner itu menggunakan yang dinamakan OPAMP (operational amplifier.
  3. Instrumentation Amplifier
    Instrumentation Amplifier diperlukan bila data analog yang diperoleh hendak ditransmisikan melalui jarak yang cukup jauh, dan juga untuk meredam interferensi, bila ada. Karakteristik instrumentation amplifier yang penting adalah yang dinamakan common mode rejection ratio (CMRR) yang tinggi, impedansi input yang tinggi, dan gain yang dapat diprogram.
  4. Isolator
    Sebaagai pemisah antara sumber sinyal dengan sistem akuisisi data diperlukan sebuah yang dinamakan isolation transformer, optical isolation, atau fiber optic.
  5. Rangkaian Fungsi Analog
    Untuk fungsi-fungsi yang tetap, rangkaian analog lebih sederhana dan lebih real time dibandingkan rangkaian pemroses (pengolah) digital. Fungsi-fungsi yang diwujudkan dengan rangkaian analog antara lain, multiplier, divider, adder, subtractor, dan fungsi-fungsi non-linier yang lain.
  6. Multiplekser Analog
    Jika sinyal analog yang akan diproses berasal dari beberapa sumber, atau dari kanal komunikasi yang sama, melewati single converter, maka diperlukan sebuah multiplekser analog untuk mengkopel dan mengatur sinyal tersebut.
  7. Rangkain Sample-and-Hold
    Rangkaian sample-and-holddiperlukan, karena dalam beberapa hal sinyal analog bervariasi cukup cepat, sementara konversi sinyal dari analog ke digital memerlukan selang waktu tertentu, dan A/D Converte tidak bisa mendigitalkan input analog dengan sangat segera, sehingga perubahan yang cukup besar pada sinyal input selama proses konversi dapat menimbulkaan kesalahan yang cukup besar.
  8. Analog-to-Digital Converter
    A/D Converter melakukan konversi data analog menjadi data digital yang setara. Spesifikasi A/D Converter yang utama adalah ketelitian absolut dan relatif, linieritas, resolusi, kecepatan konversi, stabilitas, no missing code, dan nilai komponen.
    Hal lain yang terkait ialah batas tegangan output, output kode digital, teknik interfacing, multiplekser internal, rangkaian signal conditoner, dan memori.
  9. Digital-to-Analog Converter
    Data yang telah diproses mengalami pemrosesan, penyimpanan, dan bahkan transmisi secara digital. Mengkonversi kembali dari bentuk digital menjadi betuk analog dilakukan dengan D/A Converter.
  10. Prosesor Data Digital
    Prosesor ini mengolah hasil konversi A/D Coverter secara digital.
  11. Filter
    Untuk menghilangkan noise yang ada, maka digunakan filter untuk melewatkan sinyal dengan frekuensi yang diinginkan, dan meredam frekuensi yang lain. Filter dapat diwujud secara hardware, maupun secara software.

Spesifikasi/Karakteristik Transduser

Sebuah transduser digunakan untuk mengubah besaran fisik menjadi suatu sinyal listrik. Besaran yang paling sering diukur dengan transduser adalah posisi, gaya, kecepatan, percepatan, tekanan, level, aliran, dan suhu. Keluaran (output) transduser biasanya tegangan, arus, resistansi (tahanan), kapasitansi, atau frekuensi. Seberapa baik dan seberapa cepat sebuah transduser mengubah keluarannya (output) dalam menanggapi (merespon) terhadap suatu perubahan parameter fisik pada masukannya (input) merupakan kunci keberhasilan dari suatu sistem kontrol.

Manufaktur transduser menjelaskan kinerja transduser dalam dua macam spesifikasi.

Spesifikasi statis menguraikan korelasi steady-state antara masukan (input) fisik dan keluaran (output) listrik. Yang termasuk spesifikasi statis adalah akurasi, resolusi, repeatability, linieritas, dan histerisis.

Seberapa cepat transduser berubah sebagai tanggapan (respon) terhadap perubahan pada masukan (input) dijelaskan sebagai spesifikasi kinerja dinamis. Rise time, time contant, dead time, frequency response, dan second order parameter dari damping, resonsnt frequency, settling time, dan percent overshoot biasanya dipakai oleh manufaktur untuk menjelaskan kinerja dinamis dari transdusernya.

Elemen masukan menerima besaran yang akan diukur dan menghasilkan sinyal listrik yang proporsional untuk diteruskan ke pengkondisi sinyal. Di dalam pengkondisi sinyal sinyal listrik itu diperkuat, difilter, dan disampling menjadi format yang dapat diterima oleh elemen kontrol. Besaran yang masuk ke elemen masukan pada kebanyakan sistem akuisisi besaran fisik non-listrik. Untuk menggunakan metoda dan teknik pengukuran besaran listrik, besaran fisik non-listrik itu diubah menjadi sinyal listrik dengan alat yang dinamakan transduser.

Tranduser adalah elemen yang berfungsi untuk mengubah besaran fisik non-listrik menjadi besaran listrik yang dapat berupa tegangan, atau arus lis
trik. Transduser adalah sebuah divais yang bila bagian inputnya mendapat energi, kemudian meneruskan energi itu pada bagian outputnya dalam bentuk yang sama atau dalam bentuk yang berlainan. Energi input bisa berupa listrik, mekanik, panas, kimia, intensitas cahaya, kelembaban, dll. Keluaran sinyal listrik yang dihasilkan dalam bentuk sinyal listrik analog.

Transduser yang banyak digunakan pada industri, antara lain: Physically Displacement Transducer, Humidity Transducer, Thermocouple, Accelermeter, Tachometer, Strain Gage Transducer, Transduser Cahaya, Transduser Suhu, Transduser Aliran Zat Cair.

Pengelompokan transduser yang terdapat secara komersial, berdasarkan pada pemakaiannya dalam teknik instrumentasi, metoda konversi, sifat dasar sinyal output, dll.

Transduser Cahaya

Salah satu transduser cahaya yang sederhana adalah Light Dependent Resistor (LDR), misalnya CLAIREX CL905 pada gambar dibawah ini.

Nilai resistansi CL905 berkisar dari 15 Mohm dalam keadaan gelap (tidak ada cahaya) sampai 15 kohm dalam keadaan terang (ada cahaya). Fotoresistor seperti CL905 ini tidak mempunyai respons yang cepat, tapi transduser ini murah dan cukup peka. Karena itu transduser ini biasanya dipakain untuk aplikasi pada pengukuran cahaya yang tidak terlalu persisi. Fotoresistor biasanya dipakai sebagai saklar otomatis pada lampu penerangan jalan umum (PJU). Pada malam hari (gelap) lampu akan otomatis menyala, pada pagi hari (terang) lampu akan otomatis padam. Rangkaian elektronik pada gambar di atas menunjukkan saklar otomatis ini.

Transduser cahaya lain yang sering digunakan adalah fotodioda HP 5082 4203. Gambar di bawah ini menunjukkan rangkaian kontrol untuk HP 5082 4203. Transduser ini mengubah cahaya yang jatuh pada permukaannya menjadi arus bocor reverse yang mengalir di dalam fotodioda. Besar arus yang mengalir itu bervariasi dari 0 mikroampere sampai 100 mikroampere. Pasda rangkaian kontrol terdapat Rf = 100 kohm yang mengubah besar arus menjadi tegangan output sebesar 0 volt sampai 10 volt.

Dengan adanya tegangan negatif pada input non inverting amplifier maka fotodioda menjadi reverse biased. Penambahan reversed dimaksudkan untuk mempercepat response dari transduser ini. Penggunaan IC Op Amp LM356 (input amplifier FET) karena Op Amp ini tidak memerlukan input bias current.

Transduser Suhu

Ada beberapa macamm transduser suhu yang mampu mengukur suhu berkisar dari -55oC sampai 100,oC, bervariasi dari harga yang murah sampai yang mahal. Yang banyak digunakan adalah transduser suhu semikonduktor, dan termokopel yang bisa mengukur suhu dari yang sangat rendah sampai suhu yang sangat tinggi.

Transduser Suhu Semikonduktor/IC

Transduser Suhu I dikembangkan untuk memperbaiki akurasi, linieritas, dan sensivitas transduser suhu sebelum ini. Transduser dalam bentuk IC tidak seakurat termometer resistansi atau termokopel, tapi transduser suhu IC mudah penggunaannya dan murah. Transduser IC dapat dibuat dengan transistor konvensional dan dalam bentuk paket IC, baik dengan keluaran tegangan atau dengan keluaran arus yang berbanding lurus dengan suhu.

Misalnya LM135 dari National Semiconductor. IC ini bekerja seperti dioda Zener dengan dua terminal dengan tegangan breakdown yang berbanding lurus pada suhu absolut +10 mV/oK. LM135 bekerja dalam selang -55oC sampai 150oC.

Analog Devices membuat AD590 dengan keluaran arus. Divais dua terminal ini dihubungkan seri dengan power supply tegangan rendah, dan arus seri sebesar sampai 1 mikroA/oK. Transduser dalam bentuk IC merupakan perbaikan dari transduser dioda tapi tetap ada masalah selang yang terbatas dan fragilitas.

Keunggulan transduser dalam bentuk IC itu mudah dikalibrasi, murah, dan keluarannya dapat dibaca langsung dengan dalam derajat bila dihubungkan dengan digital multimeter (DMM). Keluaran LM335 sebesar 10 mV/oK. Keluaran LM34 lebih mudah 10 mV/oF. Keluaran AD592 arus rata-rata sebesar 1 mikroA/oK.

Yang termasuk jenis transduser suhu ini LM35 yang mampu mengukur suhu dengan kisaran dari -55oC sampai 150oC. Tegangan output tarnsduser LM35 ini meningkat 10 mV per derajad celcius. Keakuratan sensor ini sekitar 1oC.

Jenis lain yang masih termasuk dalam keluarga ini AD590 yang merupakan temperature-dependent current source, yang menimbulkan arus output sebesar 1 mikroampere per derajad kelvin.

Transduser Suhu Termokopel

Termokopel, divais yang paling umum untuk pengukuran suhu proses dalam industri. Sebuah termokopel merupakan sepasang kawat metal yang tidak sama yang dihubungkan dalam loop tertutup. Kawat yang tidak sama itu mempunyai dua titik pertemuan (junction), satu pada setiap ujung dari loop itu. Salah satu junction, yang disebut hot junction, dikenakan pada suhu tinggi, junction yang lain, cold junction, dikenakan pada suhu rendah. Jika hal ini dilakukan, maka timbul tegangan dalam loop itu, tegangan itu berbanding lurus dengan beda antara kedua suhu junction itu.

Apa yang terjadi dalam sebuah thermocouple loop adalah bahwa suatu tegangan kecil ditimbulkan pada setiap junction dari metal yang tidak sejenis, akibat dari gejala yang disebut efek Seebeck. Semakin besar tegangan pada junction, semakin besar tegangan yang timbul pada junction. Lebih lanjut, hubungan antara tegangan dan suhu hampir linier, yaitu suatu kenaikan suhu menimbulkan kenaikan tegangan.

Resistance Temperature Detector (detektor suhu resistansi) atau perangkat termal resistif (RTDs), adalah sensor suhu yang mengeksploitasi perubahan tahanan listrik yang dapt diprediksi dari beberapa bahan mengikuti perubahan suhu. Karena biasanya terbuat dari platinum, RTD sering disebut termometer resistansi platinum (PRTs). RTD lambat laun akan menggantikan penggunaan termokopel dalam aplikasi di industri di bawah 600°C, karena akurasi yang lebih tinggi dan pengulangan.

Ada banyak kategori, karbon resistor, film, dan jenis wire-wounds yang paling banyak digunakan.

    • Carbon resistors banyak tersedia dan sangat murah. Carbon resistors memiliki hasil yang sangat direproduksi pada suhu rendah. Carbon resistors adalah bentuk yang paling dapat diandalkan pada suhu yang sangat rendah. Carbon resistors umumnya tidak mengalami histeresis atau efek strain gauge yang signifikan.

    • Thermometer film memiliki lapisan platina di atas substrat; lapisan platina yang sangat tipis, mungkin satu mikrometer. Keuntungan dari jenis ini adalah biaya yang relatif rendah (biaya tinggi untuk lapisan platinum yang diimbangi dengan jumlah kecil diperlukan) dan respon cepat. Thermometer film tersebut telah meningkatkan kinerja meskipun kecepatan ekspansi yang berbeda dari substrat dan platinum menimbulkan efek strain gauge dan masalah-masalah stabilitas.

  • Wire-wound thermometers mempunyai akurasi yang lebih besar, terutama untuk rentang suhu yang lebar. Diameter kumparan memberikan kompromi antara stabilitas mekanik dan kemungkinan perluasan gulungan kawat untuk meminimalkan strain dan konsekuensi timbbulnya drift.

Thermistor (thermal resistor) Seperti halnya RTD mengubah resistansi sebagai fungsi suhu, tetapi bukan suatu koeffisien suhu positif melainkan koefissien suhu negatif (resistansi berkurang bila suhu semakin tinggi).

Termistor adalah jenis resistor yang resistensi bervariasi secara signifikan dengan suhu, lebih daripada di resistor standar. Kata adalah portmanteau dari termal dan resistor. Termistor secara luas digunakan sebagai pembatas arus lonjakan, sensor suhu, self-resetting overcurrent protectors, dan self-regulating heating elements. Termistor berbeda dari detektor suhu resistansi (RTD) dalam hal bahan yang digunakan, pada termistor umumnya keramik atau polimer, sedangkan RTD menggunakan logam murni. Tanggapan suhu juga berbeda; RTD berguna dalam rentang temperatur yang lebih besar, sementara thermistors biasanya mencapai presisi yang lebih tinggi dalam rentang suhu terbatas, biasanya -90°C sampai 130°C.

Simbol Termmistor

Misalnya, sebagai pendekatan orde pertama, bahwa hubungan antara resistansi dan temperatur adalah linier, maka:

dimana: ΔR = perubahan resistensi ΔT = perubahan suhu k = orde pertama koefisien temperatur resistansi Thermistors dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, tergantung pada tanda k. Jika k adalah positif, perlawanan meningkat dengan meningkatnya suhu, dan perangkat yang disebut koefisien temperatur positif (PTC) thermistor, atau posistor. Jika k negatif, resistensi menurun dengan meningkatnya suhu, dan perangkat ini disebut koefisien suhu negatif (NTC) thermistor. Resistor yang tidak termistor dirancang untuk memiliki aksebagai mendekati nol mungkin (k terkecil yang mungkin), sehingga perlawanan mereka tetap hampir konstan pada kisaran temperatur yang luas. Alih-alih k koefisien temperatur, kadang-kadang koefisien suhu resistansi αT digunakan.

Hal ini didefinisikan sebagai Ini koefisien αT tidak harus bingung dengan parameter di bawah ini.

Humidity Transducer

Beberapa operasional dalam industri harus dilakukaan pada kondisi kandungan uap air (water vapor/moisture) yang khusus dan terkendali. Skala paling banyak digunakan untuk pengukuran kandungan uap air di udara adalah skala relative humidity (RH).Relative humidity adalah rasio dari uap air yang sebenarnya terdapat dalam udara terhadap banyaknya uap air maksimum yang dapat diserap oleh udara. Bila berada di udara, sebuah higrometer resistif merupakan elemen yang resistansinya mengikuti perubahan kelembaban relatif (relative humidity) di dalam udara. Higrometer resistif biasanya terdiri dari dua elektroda metal foil (lembaran logam), kedua elektroda itu terpisah secara elektrik satu sama lain dengan bahan plastik. Kemudian divais itu dilapisi dengan lapisan tipis (film) larutan lithium chlorida.

Bila kelembaban relatif udara di sekitarnya naik, maka lapisan tipis lithium chlorida akan menyerap uap air dari udara. Karena lapisan tipis lithium chlorida yang kontak merata dengan kedua elektroda metal, maka resistansi di antara kedua terminal elektroda juga turun. Maka dikatakan ada hubungan antara resistansi di antara kedua elektroda metal dengan kelembaban relatif udara. Kurva karakteristik resistansi elektroda vs kelembaban relatif udara untuk higrometer relatif seperti pada gambar di sebelah kanan.

Transduser Gaya dan Tekanan

Untuk mengkonversi besar gaya atau tekanan menjadi sinyal listrik yang proporsional digunakan transduser gaya yang disebut strain gage atau strain gauge

Pengukuran Strain

Bila sebuah gaya diberikan pada bahan yang elastis, bahan itu akan mengalami sedikit yang dinamakan deformasi (perubahan bentuk). Elastisitas adalah kemampuan suatu bahan untuk memulihkan ukuran dan bentuknya semula setelah gaya deformasinya dihentikan. Jika suatu gaya yang relatif kecil dipasang pada panjang sebuah balok, balok itu akan mengalami perubahan panjang sebesar yang berbanding lurus dengan gaya yang terpasang (lihat gambar).


Selama bahan itu tetap elastis, perubahan panjangnya sebanding lurus dengan gaya terpasang. Hubungan ini dikenaal sebagai Hukum Hooke.

Gejala suatu benda untuk kembali pada bentuk semula itu terbatas. Semakin besar gaya terpasang pada suatu benda, benda itu akan mencapai yang dinamakan batas elastis (elastic limit) – suatu titik yang menimbulkan deformasi permanen. Untuk bahan seperti baja, batas elastisnya tercapai bila perubahan panjangnya lebih besar sedikit dari pada persentase panjang semula. Begitu batas elestisnya tercapai, smakin besar gayanya dapat mengakibatkan deformasi dan kehancuran. Beberapa bahan, misalnya lempung (clay), tidak mempunyai elastisitas dan tidak akan kembali ke dimensi semula, betapa pun kecilnya gaya yang terpasang. Lempung (clay) dikatakan bahan yang plastis.

Deformasi bahan tergantung pada panjang, luas penampang dan komposisinya.

Faktor pertama yang mempengaruhi perubahan panjang balok. Bila dua balok yang homogin dengan diameter dan bahan yang sama mendapat tekanan gaya yang sama besar, balok yang lebih panjang akan mengalami tekanan dengan sejumlah yang proporsinal lebih besar. Tapi bila perubahan panjang dibagi dengan panjang balok semula, ΔL/L, diperoleh suatu besaran yang tidak tergantung pada panjang balok.

F ~ ΔL/L

Besaran perubahan panjang dibagi panjang semula, ΔL/L, dinamakan strain dan ditulis dalam bentuk persamaan:

σ = ΔL/L

dimana σ = strain, bilangan tanpa dimensi.

Faktor kedua yang mempengaruhi perubahan panjang balok adalah luas penampang balok. Jika sebuah balok menahan sebuah beban, beban itu akan menekan balok dengan sejumlah gaya. Bila balok kedua yang identik dipasang untuk berbagi beban, maka gaya beban itu akan didistribusikan sama besar di antara kedua balok itu, perubahan panjangnya menjadi setengah besar perubahan panjang sebelumnya. Jadi pengaruh gaya terhadap strain berkurang dengan adanya luas penampang balok yang semakin besar, yaitu:

F/A ~ ΔL/L

dimana A = luas (m2)

Agar dapat mengubah hubungan proporsional menjadi bentuk persamaan, maka diperlukan suatu konstante yang terkait dengan komposisi balok itu. Konstante ini disebut modulus Young (E). Modulus Young merupakan ukuran kekakuan (stiffness) dari bahan dan, untuk luas penampang tertentu, kemampuan bahan menahan suatu perubahan panjang bila diberi beban. Hukum Hooke dapat dimodifikasi menjadi

F/A = E(ΔL/L)

dimana E = modulus Young (N/m2)

Besaran F/A disebut stress dan merujuk pada gaya per satuan luas pada sebuah bidang tertentu di dalam sebuah benda. Stress dinyatakan dengan:

s = F/A

dimana s = stress (N/m2)

Persamaan di atas menyatakan stress sama dengan modulus Young kali strain. Stress mempunyai satuan sama dengan tekanan yaitu gaya per luas. Hubungan stress-strain biasanya ditulis:

σ = Es

Hubungan antara stress dan strain tergantung pada bahan, termasuk kalau ada heat treatment. Diagram stress-strain pada gambar di bawah ini untuk baja dengan karbon rendah (low-carbon steel). Diagram itu diawali dengan bagian yang proporsional dimana berlaku hukum Hooke. Bila stress dihilangkan pada bagian ini, baja itu kembali ke bentuk semula. Pada batas elestis, semakin besar strain tidak lagi proporsional dengan bertambah besar stress. Dengan kenaikan stress selanjutnya, suatu titik yang disebut yield point, dimana pertambahan strain terjadi tanpa kenaikan stress terkait. After titik ini, terjadi deformasi permanen. Bagian ini disebut plastic range.Pemberian stress pada bahan selanjutnya menuju titik yang disebut ultimate strength atau tensile strength dari bahan itu.

Gaya longitudinal yang menekan suatu balok menimbulan strain didalam balok dan agak memendekkan sedikit, ΔL. Gaya yang menimbulkan strain dikenakan tegak lurus pada bidang bahan itu dan merupakan ukuran deformasi per satuan panjang, karena itu disebut normal strain atau axial strain. Normal strain digambarkan pada gambar di bawah ini.


Aspek lain terhadap penekanan (kompressi) balok juga mengalami pengembangan ke arah sudut kanan sumbu balok, seperti yang terlihat pada gambar. Dengan membagi setiap perubahan dimensi dengan dimensi tanpa stress menghasilkan bilangan murni yang dihubungkan pada strain dengan suatu konstante. Konstante itu disebut Poisson’s ratio, disingkat ν. Poisson’s ratio merupakan bilangan tanpa dimensi yaitu karakteristik bahan. Hubungan antara besaran-besaran ini dinyatakan dengan persamaan

Δw/w = Δh/h = -ν(ΔL)/L

dimana ν = Poisson’s ratio

Jenis strain yang kedua ditimbulkan oleh bending force disebut bending strain. Bending strain digambarkan pada gambar di bawah ini. Dengan gaya terpasang seperti terlihat pada gambar, bagian atas batang akan mengalami yang dinamakan tensile strain, sedangkan bagian bawah batang mengalami compressive strain. Strain gage yang digunakan untuk mengukur bending strain dapat digunakan untuk mengukur gaya vertikal.


Jenis strain yang ketiga diakibatkan gaya yang menimbulkan distorsi sudut, seperti pada gambar di atas, dan menimbulkan shear strain. Shear strain, γ, dapat didefinisikan sebagai perubahan sudut (radian) yang mana balok itu menjadi miring. Perhatikan sebarang bidang digambarkan menyudut di dalam balok. Gaya yang terpasang pada balok dapat dibagi menjadi dua komponen, yang tergantung pada orientasi bidang tersebut di dalam balok. Satu komponen tegak lurus pada bidang dan yang lain sejajar dengan dengan bidang. Seperti halnya strain, shear stress, τ, timbul sepanjang bidang sebarang, sedangkan normal stress timbul tegak lurus pada bidang.

Jenis strain yang keempat diakibatkan gaya puntir dan disebut torsional strain, Torsional strain digambarkan seperti di bawah ini.

Strain Gages dan Load Cells

Strain Gages merupakan resistor kecil yang resistansinya dapat berubah mengikuti perubahan panjang strain gages. Strain gages terbuat dari kawat (wire) sangat tipis, atau dari foil tipis, atau dari bahan semikonduktor.

Gambar di bawah ini menunjukkan cara sederhana untuk mengukur gaya/berat atau mengukur tekanan dengan strain gages. Bila ada perubahan tegaangan strain gages maka arus listrik yang mengalir di dalam strain gages sebanding dengan gaya yang bekerja pada strain gages.

Penempatan strain gages yang tegak lurus dimaksudkan sebagai kompensasi perubahan resistansi strain gages akibat pengaruh suhu. Kedua strain gages ini mengalami pengaruh suhu, tapi hanya strain gages (a) yang berubah resistansinya jika ada gaya yang bekerja padanya.

Kedua strain gages dirangkai dengan konfigurasi jembatan yang balance, maka perubahan resistansi akabibat suhu tidak akan mempengaruhi output differential amplifier. Tapi tegangan output differential ampllifier akan berubah jika ada gaya yang bekerja pada salah satu strain gages.

Strain gages yang dirangkai seperti gambar konfigurasi di atas ini dinamakan Load Cell, yang banyak digunakan untuk mengukur berat.

TERKAIT:

Displacement Transducer

Linear Variable Differential Transformer (LVDT) merupakan sebuah trafo diferensial yaitu trafo induktif pasif. LVDT pada dasarnya terdiri dari sebuah kumparan primer dan dua buah kumparan sekunder digulung pada tabung berbentuk pipa sedemikian rupa sehingga primer berada di antara kedua sekunder.

Prinsip kerja LVDT sebagai berikut. Sebuah inti (poros) besi (atau logam peka magnetis yang lain) bergerak secara translasi di dalam pipa, karena itu inti besi mempengaruhi kopling magnetis antara primer dan sekunder. Bila inti besi itu berada ditengah-tengah, tegangan yang diinduksikan pada kedua sekunder sama besar. Bila inti besi digeser dari tengah-tengah ke salah satu arah, maka yang diinduksikan pada kumparan yang satu semakin besar dan pada kumparan yang lain semakin berkurang. Geseran inti besi ke arah berlawanan membalik pengaruh induksi ini.

Dalam gambar skema, kedua gulungan kumparan sekunder dihubungkan seri berlawanan. Bila ditelusuri, polaritas V1 dan V2 berlawanan satu sama lain dari terminal A ke terminal B. Akibatnya, bila inti besi berada ditengah-tengah maka V1 = V2, tidak ada tegangan output, Vo = 0.

Dalam aplikasinya, LVDT harus dilengkapi dengan rangkaian pengkondisi sinyal untuk mengolah perubahan induktansi menjadi besaran analog yang untuk selanjutnya diumpankan ke rangkaian sample and hold. LVDT mampu bekerja untuk pemakaian jangka panjang, mampu bertahan dalam suhu dan kelembaban yang relatif tinggi, dan tahan terhadap goncangan.

  • Acceleration Transducer Percepatan biasanya diukur dengan menggunakan spring-supported seismic mass (massa seismik yang ditunjang per)diletakkan di dalam kotak, seperti pada gambar di bawah ini.


    Damping dilengkapi dengan sebuah dashpot. Gerakan relatif anatara kotak (case) dan massa berbanding lurus dengan percepatan (acceleration). Transduser kedua seperti sebuah resistive displacement transducer dipasang untuk mengubah gerakan relatif menjadi keluaran listrik. Secara ideal, massa tidak bergerak bila kotak itu beraselerasi karena inersianya, dalam praktek massa itu bergerak karena gaya terpasang padanya melalui per. Accelerometer mempunyai suatu frekuensi natural, perioda harus lebih singkat dapri pada waktu yang diperlukan untuk aselerasi yang diukur berubah. Accelerometer yang digunakan untuk mengukur getaran harus digunakan pada frekuensi kurang dari frekuensi naturalnya.

  • Accelerometer adalah sebuah divais untuk mengukur percepatan.

    Accelerometer diaplikasikan pada peralatan kendali untuk level percepatan. Kebanyakan accelerometer bekerja secara tidak langsung. Accelerometer membawa sejumlah massa tertentu, yang disebut seismic mass, kearah pertemuan mekanikal (mechanical junction) dengan obyek yang diukur, sehingga berapa saja kecepatan obyek yang diukur berlangsung, seismic mass harus berlangsung dengan percepatan yang sama. Accelerometer akan mendeteksi gaya yang diberikan pada seismic mass. Nilai gaya yang terukur dihubungkan nilai percepatan dengan Hukum Newton yang kedua: a = F/m.

  • Tachometer adalah sebuah divais untuk mengukur kecepatan sudut dari sumbu yang berputar. Tachometer untuk industri menggunakan salah satu dari dua teknik pengukuran dasar:
    • Kecepatan sudut dinyatakan dengan besaran suatu tegangan yang ditimbulkan
    • Kecepatan sudut dinyatakan dengan frekuensi suatu tegangan yang ditimbulkan.
  • Tachometer besaran (magnitude tachometer) ada dua macam: dc generator tachometer dan drag cup tachometer.
  • Tachometer frekuensi (frequency tachometer) ada macam: rotating field ac tachometer, toothed-rotor tachometer, dan photocell pickup tachometer.

Sebuah tachometer merupakan transduser induktif yang langsung mengubah kecepatan menjadi sinyal listrik. Salah satu tekniknya, mengkopel langsung yang akan diukur kecepatan sudutnya langsung pada rotator sebuah generator dc (lihat gambar).

Kopeling itu akan memutar rotating armature di antara kutub-kutub magnet permanen, yang akan menginduksikan tegangan pada kumparan rotor. Tegangan yang timbul mendekati 10 mV per revolusion per minute (rpm), dan dapat diumpankan langsung pada sebuah voltmeter dc yang sudah dikalibrasikan dengan satuan rpm. Cara lain, menggunakan rotating armature magnet permanen. Kumparannya digulungkan pada kutub-kutub tetap (lihat gambar).

Konfigurasi seperti ini menimbulkan sinyal bolak-balik, yang lebih baik bila dibandingkan dengan tegangan dc, yaitu sinyal noise dan ripple dapat difilter lebih dulu sebelum dilanjutkan dengan amplifikasi sinyal. Salah satu aplikasi transduser ini untuk penentuan frekuensi, dengan jalan menghubungkan langsung transduser itu pada generator frekuensi. Untuk mendapatkan penentuan frekuensi yang lebih eksak digunakan digital counting system.

Sensor
Perangkat atau komponen untuk mengindera atau mendeteksi suatu gerakan atau keadaan suatu lingkungan sebagai elemen masukan sistem akuisisi data disebut sensor. Sensor terhubung dengan elemen kontrol (kontroler). Sensor yang paling sederhana adalah sensor on/off yang biasanya menggunakan limit switch, sensor analog, sensor bus paralel, sensor bus serial, dan sensor kamera.

Sistem Akuisisi Data menggunakan bermacam-macam sensor, tergantung pada cara pengukuran dan interfacing ke CPU. Sensor biasanya diklasifikasikan berdasarkan keluarannya dan aplikasinya.

  • Sensor Biner
    Sensor biner hanya menghasilkan output logik 1 atau 0. Setiap divais sensor pada dasarnya dapat dioperasikan secara biner dengan menggunakan sistem threshold atau komparasi pada outputnya.

    Contoh limit switch yang dioperasikan sebagai sensor sentuh biasanya dikuatkan dengan gate buffer 74HCT245. Limit switch bisa diganti komponen lain sesuai dengan apa yang akan dideteksi.

    Misalnya light dependent resistor (LDR), LED infra merah, dan resistor NTC (negative temperature coefficient).

  • Sensor Analog
  • Sensor Kamera
    Untuk dapat memantau lingkungannya, kadang Sistem Akuisisi data perlu dilengkapi dengan sensor kamera. Sensor kamera disini cukup sebuah kamera digital B/W sederhana yang dapat membedakan obyek yang berwarna kontras. Misalnya Omnivision OV6620 atau OV7620

 

Pengkondisi Sinyal

Sistem akuisisi data terdiri dari sejumlah komponen atau elemen yang saling berhubungan satu dengan yang lain secara bersama-sama bertujuan melakukan pengukuran, penyimpanan, dan pengolahan data menjadi informasi yang bermakna.

Elemen sistem akuisisi data yang saling berhubungan satu dengan yang lain terdiri dari: Transduser, Signal Conditioner, Instrumenntation Amplifier, Isolator, Rangkaian Fungsi Analog, Multiplekser, Signal Converter.

Keluaran dari transduser selalu mengalami gangguan dari noise, interferensi dari sinyal gelombang elektromagnetik, dll. Keluaran transduser mempunyai impedansi output dan tegangan output biasanya tidak kompatibel dengan peralatan akuisisi data yang digunakan. Sehinga diperlukan sebuah Signal Conditioner untuk meyesuaikan antara keluaran transduser dengan peralatan akuisisi data.

Signal Conditioning Circuit
Signal Conditioning Circuit dibangun dengan menggunakan IC OpAmp, misalnya LM741, dan LM324. Rangkaian Signal Conditioning dapat berupa amplifier, attenuator, filter, limitter, clamper, dll. Signal Conditioning Circuit dibangun dengan menggunakan IC OpAmp, misalnya LM741, dan LM324. Rangkaian Signal Conditioning dapat berupa amplifier, attenuator, filter, limitter, clamper, dll.

Multiplekser
Multiplekser dikendalikan oleh CPU. Multiplekser memilih transduser tepat yang diperlukan dengan melaksanakan kode dalam program instruksi. Input diberi buffer, untuk mengurangi loading effects transduser pada common bus. Selector switch digambarkan sebagai switch mekanis untuk jelasnya, tapi pada kebanyakan sistem menggunakan gerbang analog (analog gate). Gerbang analog, jika terpilih, akan meneruskan sinyal itu pada common bus. Single-chip analog multiplexer yang tersedia dapat meminimumkan circuit effects terhadap tanggapan frekuensi dan settling time.

 

PRINSIP KERJA RANGKAIAN SAMPLE and HOLD

Rangkaian Sample-and-Hold terdiri dari empat komponen utama, yaitu input buffer amplifier, komponen penyimpan energi berupa hold capacitor, output buffer amplifier, dan rangkaian switching, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Input buffer amplifier mempunyai impedansi input yang tinggi, untuk mengurangi pembebanan pada tahap sebelumnya dan mempunyai impedansi output yang rendah untuk memungkinkan pengisian muatan dengan sangat cepat pada hold capacitor. Input buffer amplifier menghasilkan arus untuk mengisi hold capacitor.

Dalam moda track, hold capacitor menentukan tanggapan frekuensi (frequency response) dari amplifier ini. Switch merupakan analog device yang berkualitas tinggi dengan fast acting, seperti CMOS transmission gate. Hold capacitor adalah divais mempunyai karakteristik kebocoran rendah, biasanya kapssitor yang terbuat dari polystyrene, polypropylene, atau Teflon.

Dalam moda hold, hold capacitor menahan tegangan sebelum switch membuka/melepas hubungan ke input buffer amplifier.

Output buffer amplifier merupakan buffer terhadap tegangan hold capacitor. Karena itu hold capacitor harus mmpunyai arus input yang ekstrim rendah. Output buffer amplifier itu biasanya amplifier FET, yang mempunyai impedansi input yang tinggi terhadap hold capacitor untuk menghindari pembuangan muatan (discharge) sebelum waktunya.

Spesifikasi Rangkaian Sample and Hold

Terdapat empat spesifikasi yang menggambarkan karakteristik rangkaian sample and hold, yaitu:

  1. moda track
    Dalam moda operasi track atau sample, rangkaian S/H merupakan sebuah amplifier dengan bandwidth yang terbatas. Spesifikasi utama pada moda operasi track adalah:

    • offset: menyatakan deviasi keluaran terhadap nol.
    • non-linieritas: menyatakan deviasi dari grafik sinyal input-output terhadap garis lurus yang seharusnya. Ini dinyatakan dalam persentasi full-scale.
    • gain: faktor pengali yang melambangkan transfer function input-output.
    • setting time: waktu yang diperlukan oleh output untuk mencapai nilai akhirnya dalam daerah pecahan dan full-scale yang tertentu bila dimasukkan input full-scale step analog.
    • bandwidth: menggambarkan tanggapan frekuensi (frequency response) dalam hubungannya dengan peredaman output pada frekuensi tinggi, biasanya dikarekteristik pada -3 dB.
  2. transisisi track ke hold
    • waktu aperture: menyatakan waktu yang diperlukan untuk membuka hubungan hold capacitor dari input buffer amplifier.
    • offset sample ke hold: terjadi kesalahan step, karena nilai tegangan pada saat hold berbeda dengan nilai terakhir pada waktu sample.
  3. moda hold
    Selama moda hold terdapat kesalahan akibat ketidak-sempurnaan switch, output buffer amplifier, dan hold capacitor.

    • droop: konstante hanyutan dari tegangan output karena kebocoran muatan dari hold capacitor.
    • feedthrough: bagian dari sinyal input yang tampak pada output saat hold, terutama disebabkan oleh kapasitansi pada switch.
  4. transisi dari hold ke sample
    • acquisition time: lama rangkaian S/H harus tetap pada moda sample agar hold capacitor mendapatkan input full-scale step.

SAMPLING and LOW PASS FILTERING Transduser mengubah parameter fisik yang akan diukur menjadi tegangan, arus, atau resistansi. Jika yang akan diukur tidak berubah dengan cepat, sinyal masukan dapat dianggap kostan atau dc level untuk pembahasan praktis. Kadang-kadang yang akan diukur itu berubah dengan cepat, misalnya pada pengukuran getaran. Dalam hal ini, sinyal itu mengandung komponen ac. Sebagaimana sinyal dc, sinyal ac yang berubah dengan cepat harus dicuplik (sampled) dan didigitalisasi. Bila sinyal berubah mengikuti waktu digitalisasi pada saat diterima, sinyal mengubah level sebelum konversi selesai, menimbulkan substantial error. Biasanya teknik untuk menghilangkan error ini melalui pemakaian sebuah rangkaian sample-and-hold. Rangkaian sample-and-hold mampu melakukan sampling sinyal masukan dan freezing nilainya dengan jalan menyimpan sementara tegangannya dalam kapasitor hold. Kemudian A/D converter melakukan digitalisasi nilai yang tersimpan, sesudah itu sampling berikutnya dilakukan.

Contoh sample and hold operation terhadap bentuk gelombang sinusoida seperti di atas ini. Perhatikan bentuk gelombang ini mengalami sampled and held pada awal setiap sample time. Sinyal sinusoida asli sekarang ditunjukkan dengan sederetan sampled point yang diselingi increments of time yang sama. Menurut Nyquist criteria, sampling harus terjadi pada rate minimum dua kali lipat rate dari komponen frekuensi yang tertinggi dari sinyal itu, untuk menghindari error pada sampled data. Komponen yang tertinggi ini frekuensi cutoff dari sinyal, bukan frekuensi -3 dB seperti pada filter atau sejenisnya. Komponen frekuensi yang tertinggi ini harus mendekati -40 dB untuk menghindari yang dinamakan aliasing errors. Kriteria Nyquist dapat dinyatakan dengan persamaan:

fs >= 2fc

dimana: fs = sample rate frequency (Hz) fc = maximum frequency (Hz) Proses sampling menimbulkan spektrum harmonisa yang terpusat di sekitar multi frekuensi sampling, seperti pada gambar berikut ini. Pada ujung bagian bawah spektrum ini merupakan frekuensi cutoff untuk harmonisa pertama dari frekuensi sampling, diberi label f’c. Seperti pada cutoff untuk spektrum sinyal, komponen paling rendah dari spektrum ini harus ada di -40 dB. Jika frekuensi maksimu dinaikkan pada cutoff untuk sinyal (fc), lower cutoff frequency (f’c) akan berkurang dengan besar yang sama, mengakibatkan guard band lenyap, seperti pada gambar berikut ini. Tanpa low-pass filter, kenaikan frekuensi maksimum di atas setengah sample frequency akan mengakibatkan yang dinamakan aliasing errors. Gunanya low-pass filter itu untuk menghindari aliasing errors dengan jalan guard band tetap berada di antara spektrum sinyal dan spektrum sampling. Karakteristik respon dari low-pass filter harus flat sepanjang passband dan harus roll-off curam.

IC ADC 0804 merupakan konverter analog ke digital 8-bit yang mudah di-interface-kan dengan mikroprosesor 8080. Komponen ini menggunakan ADC aproksimasi berturut-turut (successive-approximation ADC) untuk mengkonversi masukan analog dalam jangka tertentu menjadi data digital 8-bit yang setara. ADC 0804 mempunyai pembangkit pulsa internal dengan sedikit tambahan komponen eksternal, membutuhkan catu daya dengan tegangan sebesar +5 volt, dan mempunyai waktu konversi optimal sekitar 100 mikrosekon.

Central Prosessing Unit

Sistem akuisisi data merupakan kumpulan elemen/komponen (elektris, mekanis, foto elektris, dsb) yang dirangkai untuk bekerja sama (berinteraksi) dengan tujuan melakukan fungsi tertentu, dimana besaran-besaran yang ada dalam bentuk digital. Sistem seperti itu dinamakan sistem akuisisi data digital yang ditunjang perangkat lunak untuk mendukung berfungsinya sistem.

Elemen kontrol (sering disebut kontroler) dalam Sistem Akuisisi Data merupakan rangkaian elektronik yang terdiri dari 4 modul, yaitu modul CPU, modul memori, modul input, dan modul output. Keempat modul itu berinteraksi sebagai satu kesatuan dengan didukung perangkat lunak (software) yang disimpan dalam modul memori. Perangkat lunak mengatur segala sesuatunya yang diinginkan oleh operator dengan memerintahkan CPU agar secara terus menerus berkomunikasi dengan modul input dan modul output. Karena adanya perangkat lunak yang dapat diprogram, maksudnya dapat diubah-ubah, sistem akuisisi data berbasis mikroprosesor dikatakan sistem yang programmable, sistem yang mampu mengolah sesuatu yang variabel.

Rangkaian elektronik ini terdiri dari Sistem Internal (software) dan Sistem Eksternal (hardware). Sistem Internal berupa perangkat lunak yang terdiri dari sejumlah program instruksi dan data. Sedangkan Sistem Eksternal berupa perangkat keras yang terdiri dari mikroprosesor, memori, buffer, dan divais I/O serta komponen lainnya yang menunjang. Rangkaian ini biasanya menggunakan mikroprosesor 8088 dalam mode minimum.


Gabungan antara perangkat keras dan perangkat lunak itu menghasilkan suatu sistem yang disebut sistem minimum, yang berperanan sebagai Central Prosessing Unit (CPU). CPU berfungsi sebagai sumber sinyal kontrol. CPU, memori dan I/O dihubungkan dengan jalur-jalur yang dikenal sebagai bus. CPU memberikan address untuk mengalamati memori dan I/O yang dipakai. Sedangkan arah data dari CPU ke memori, atau dari CPU ke I/O ditentukan oleh instruksi kontrol dari CPU itu ke memori, atau ke I/O.

Untuk CPU yang menggunakan mikroprosesor Intel 8088, instruksi kontrol untuk memori dan untuk I/O berlainan. Untuk memori digunakan instruksi read dan write, sedang untuk I/O digunakan instruksi in dan out. Sedangkan I/O digunakan untuk mentransmisikan data dari luar ke CPU (input), atau sebaliknya dari CPU ke luar (output).

Untuk hubungan I/O dengan dunia luar, CPU memerlukan yang dinamakan interface. Yang banyak dipakai adalah Intel 8255. IC ini merupakan Programmable Peripheral Interface (PPI), yang input atau output-nya dapat diprogram sesuai dengan keinginan pemakai, sehingga akan didapatkan fleksibilitas yang tinggi.


Jadi, CPU itu merupakan jantung dari sistem akuisisi data. CPU mengendalikan pengumpulan, pengolahan, penyimpanan data. Selain itu, CPU mengendalikan peripheral tergantung pada data yang dikumpulkan dan diolah. Tergantung pada persyaratannya, data dapat ditampilkan sebagai sederetan bilangan, grafik, atau dalam format yang lain.

Digital to Analog Converter

IC DAC 0808 merupakan konverter digital ke analog jenis current-switching D/A Converter dengan spesifikasi settling time skala penuh 150 ns, disipasi daya yang dihasilkan hanya 33 mW dengan pencatuan +/- 5 volt. IC DAC 0808 dapat di-interface-kan langsung dengan level tegangan TTL, DTL, maupun CMOS.

IC DAC 0808 mengubah level input data digital 8-bit menjadi arus. IC DAC 0808 memerlukan tegangan referensi +VRef unruk memberikan arus referensi I14 (arus yang mengalir menuju pin 14). Adanya tegangan referensi untuk mendapatkan arus referensi yang masuk pin 14, sehingga pada pin 4 menghasilkan output berupa arus. Besar arus referensi yang diizinkan berkisar antara 1,9 mA hingga 2,1 mA.

I/O Device

Aktuator
Aktuator merupakan perangkat elektromekanik yang menghasilkan gerakan. Aktuator digunakan untuk tujuan kendali, yang berarti to put into motion.

Aktuator banyak digunakan sebagai penghasil gerakan antara lain, motor DC magnet permanen, motor DC brushless, motor DC servo, aktuator pneumatik, dan aktuator hidrolik.

Gaya gerak aktuator pneumatik diperoleh melalui kompresi udara atau gas nitrogen, sedangkan gaya gerak aktuator hidrolik diperoleh kompresi zat cair (fluida), misalnya oli.

Keuntungan menggunakan aktuator pneumatik atau hidrolik, dalam kemudahan menperoleh gaya gerak atau torsi yang besar dengan terlebih dahulu menyimpan gaya itu dalam bentuk kompresi. Ketika bekerja, gaya tidak diperoleh dari perangkat elektrik. Rangkaian elektronik/elektrik bekerja mengatur (membuka/menutup) katup (valve) untuk mengalirkan tekanan fluida ke bagian silinder pneumatik/hidrolik.

Sistem Kontrol Proses Manufaktur di Industri

Sistem akuisisi data banyak diaplikasikan sebagai sistem kontrol proses manufaktur di industri yang semakin dirasakan manfaatnya. Dalam perkembangannya, sistem akuisisi data sebagai sistem kontrol proses manufaktur harus didisain dengan bentuk yang relatif lebih sesuai dengan kebutuhan industri.

Sistem akuisisi data digital banyak digunakan sebagai sistem kontrol proses manufaktur dalam mesin-mesin dan peralatan di industri dengan bentuk embedded system. Embedded system merupkan sistem akuisisi data yang dirancang untuk mengendalikan (mengontrol) proses manufaktur dengan fungsi spesifik dan diletakkan ke dalam sistem yang dikendalikan.

Sistem kontrol proses manufaktur di industri harus bersifat dinamis. Karena variabel proses yang akan dikontrol selalu berubah-ubah mengikuti keadaan real world di lingkungan yang akan dikontrol.

Untuk kondisi seperti itu dibutuhkan sistem kontrol yang adaptif, yaitu sistem yang mampu beradaptasi mengikuti perubahan variabel proses yang akan dikontrol. Sistem yang mampu beradaptasi bila aksi kontrolnya yang fleksibel dapat diatur dengan perangkat lunak, yaitu sistem kontrol digital.

Dalam proses manufaktur di industri yang serba otomatis memerlukan:

  1. progammable multi sensor (suhu, tekanan, laju aliran, level permukaan zat cair, kekentalan suatu zat, infra merah, kecepatan putar motor, torsi motor, dan lain-lain), dan
  2. programmable controller yang mampu mengambil keputusan dengan tepat dan akurat
  3. .

Maka untuk itulah sistem akuisisi data berbasis mikroprosesor/ mikrokontroler) — yang didukung perangkat lunak — dapat diaplikasikan sebagai sistem kontrol digital yang dilengkapi dengan unit memori yang mampu mengingat, dan programmable, yaitu sistem yang dapat diprogam. Jadi sistem kontrol digital cocok untuk dipakai sebagai sistem kontrol yang adaptif.

Selain itu, sistem kontrol digital mempunyai kelebihan dalam hal akurasi dan kecepatan proses. Maka tepat sekali, jika dikatakan sistem akuisisi data berbasis mikroprosesor dapat diaplikasikan sebagai sistem kontrol proses manufaktur di industri yang serba otomatis.

Sistem akuisisi data berbasis mikroprosesor/mikrokontroler lebih banyak diaplikasikan pada bidang manufaktur di industri sebagai sistem kontrol proses. Antara lain untuk menangani proses yang berurutan (sequenced control). Untuk ini cukup menggunakan sebuah single board data acqisition system, yang dirancang di atas PCB. Cara ini sangat menguntungkan, karena dimensi sistem kontrol proses menjadi relatif kecil, fleksibel, cukup efisien, dibandingkan dengan sistem kontrol analog. Bila sistem kontrol prosesnya akan dikembang lagi, tidak perlu mengubah perangkat kerasnya, cukup dengan memodifikasi perangkat lunak yang tersimpan dalam unit memori.

Disini, sistem akuisisi data dipelajari terutama penggunaannya dalam sistem kontrol proses manufaktur di industri. Rangkaian yang digunakan memungkinkan untuk mengumpulkan data analog dari satu atau lebih sumber, dan mengkonversinya menjadi sinyal digital yang ekivalen dan dikenal oleh sebuah komputer. Untuk bisa mengendalikan proses-proses manufaktur, sinyal output dari komputer harus dikonversi balik menjadi sinyal analog dengan D/A Converter dan yang dipasang pada semacam rangkaian kontrol.

Divais elektronik yang digunakan untuk tujuan kontrol dinamakan actuator, yang berarti to put into motion. Bagian dari sistem kontrol proses manufaktur di industri dengan menggunakan komputerisasi total mulai dari komputernya sampai divais atau proses yang dikontrol dinamakan sistem distribusi data, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.

Di real world semua besaran fisik selalu dalam bentuk analog, dan besaran inilah yang akan diukur, diamati, dan dikontrol. Pada proses kontrol manufaktur di industri besaran analog itu dapat berupa suhu, tekanan, tingkat kekentalan, atau laju aliran, dan lain-lain. Oleh karena itu besaran analog itu harus dikonversi menjadi besaran digital yang setara, dengan A/D Converter.

Sedangkan sebaliknya, besaran digital dapat dikonversi menjadi besaran analog, dengan D/A Converter. Output analog dari konversi ini diumpankan ke aktuator, yang selanjutnya dimanfaatkan untuk suatu keperluan yang spesifik.

Compterized Control System

Di industri, sistem akuisisi data dipakai sebagai sistem kontrol proses manufaktur. Sistem kontrol yang dirancang dan disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan informasi yang terpadu (integrated information), yang menggunakan komputer sebagai sarana penunjang, dinamakan computerized control system. Sistem kontrol di industri pada dasarnya diciptakan untuk menunjang terwujudnya lingkungan informasi tertib, terpadu, efisien, dan akurat serta tepat waktu dalam penyajiannya.

Dengan menggunakan computerized control system yang demikian, diharapkan decision making circuit dapat mengambil keputusan-keputusan yang tepat, yaitu tepat pada waktunya.

Computerized control system yang digunakan di dalam industri memungkinkan untuk mengumpulkan data analog dari satu sumber atau lebih dan selanjutnya mengkonversi data itu menjadi sinyal digital yang ekivalen dan yang kenal oleh komputer.

Untuk dapat mengontrol proses-proses manufaktur di industri, output sinyal digital dari komputer harus dikonversi kembali menjadi sinyal analog dengan D/A Converter yang dipasang pada semacam rangkaian kontrol. Komponen elektronik yang dipakai untuk tujuan kontrol dinamakan actuator, yang berarti to put into motion.

Bagian dari sistem industri dengan komputerisasi total, mulai dari komputer sampai divais, atau proses, yang dikontrol, disebut sistem distribusi data, seperti yang terlihat pada gambar diagram blok berikut ini.

Biasanya diawali dengan adanya ide, atau gagasan, untuk membuat sebuah sistem baru atau modifikasi sistem yang telah ada. Gagasan bisa datang dari manajemen di sebuah industri, atau dari konsultan. Kemudian gagasan itu diwujudkan dalam bentuk yang dinamakan system request yang mempunyai tujuan:

  • Peningkatan efisiensi, dan/atau
  • Peningkatan produktifitas,

Kemudian untuk menanggapi system request itu, dibentuk suatu tim untuk melakukan kajian dan pemilihan sistem. Kajian sistem merupakan kegiatan untuk membuat proposal yang merupakan jawaban terhadap system request. Sedangkan pemilihan sistem merupakan kegiatan untuk menentukan alternatif sistem yang akan diajukan, serta menentukan prioritas pelaksanaan proyek yang merupakan subsistem-subsistem dari sistem terpilih. Tahap-tahap pemilihan sistem adalah.

  1. Mereview dan menganalisis system request.
  2. Menganalisis sumber daya yang diperoleh untuk memenuhi system request.
  3. Menganalisis serta menentukan prioritas pelaksanaan proyek.

Tim yang melakukan kajian dan pemilihan diberi tenggat waktu (death line) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

  1. Apakah dengan sistem baru akan diperoleh cost saving, atau cost reduction.
  2. Apakah dengan sistem baru akan diperoleh proses manufaktur yang efisien dan tepat waktu.
  3. Apakah tersedia dana/anggaran yang cukup untuk menciptakan serta mengimplementasi sistem baru itu.
  4. Apakah tersedia SDM yang mampu dan mumpuni menangani pelaksanaan sistem yang baru itu.

Setelah tim tadi sudah dapat menjawab semua pertanyaan di atas dengan YES maka tim kajian dan pemilihan sistem membuat proposal untuk diajukan kepada managemen di industri. Kemungkinan yang akan diputuskan oleh managemen adalah:

  1. Menerima dan menyetujui proposal untuk segera diimplementasikan.
  2. Menolak proposal dan membatalkan system request.
  3. Menunda pelaksanaan sistem baru/modifikasi sistem.

Setelah proposal diterima dan disetujui manajemen, maka langkah selanjutnya adalah melakukan feasibility study, yaitu melakukan kajian apakah sistem itu layak atau tidak. Pada tahap ini ditunjuk seorang pemimpin proyek yang bertugas membuat rencana kerja untuk melaksanakan dan mengimplementasi sistem yang telah dipilih. Hasil studi kelayakan kemudian dilaporkan pada managemen di industri, untuk mendapatkan pengesahan (approval).

Setelah hasil studi kelayakan memperoleh approval dari manajemen , maka langkah selanjutnya merancang dan mengimplementasi suatu sistem seperti yang inginkan manajemen, dan untuk ini menunjuk seorang pemimpin proyek, bila perlu didampingi seorang konsultan. Pekerjaan dalam perancangan sistem meliputi kegiatan-kegiatan berikut ini.

  1. Membuat rancangan untuk proses keseluruhan.
  2. Segmenting the system into workable modules.
  3. Specifying the programs to achieve the system objectives.
  4. Designing controls for the system.
  5. Documenting the systems designed
  6. System review
  7. Obbtaining required hardware

Uji coba sistem merupakan kegiatan dalam rangka pengembangan sistem, sebelum suatu sistem baru itu diimplentasi pada suatu instalasi, atau sistem yang dirancang dikonversikan dari exsisting system ke sistem yang baru, atau modified system. Kegiatan uji coba sistem ini dilakukan dengan tujuan untuk menjamin bahwa secara teknis sistem hasil rancangan dapat dioperasikan secara baik dan benar dan dapat dipertanggung-jawabkan.

STUDI KASUS

Seorang mahasiswa mempunyai ide untuk merancang sistem kontrol berbasis sistem akuisisi data untuk diimplentasikan pada sebuah Rumah Kaca (Greenhouse).

Untuk mewujudkan idenya, mahasiswa itu menindak-lanjuti dengan melakukan penelitian/penelaahan dari kepustakaan atau dari sumber lain, guna mengkaji dan mencari sistem kontrol akan dikembangkan dalam tugas akhirnya.

Karena idenya ini akan dijadikan tugas akhir (skripsi), maka mahasiswa itu harus membuat proposal untuk diajukan kepada kepala jurusan untuk mendapatkan approval. Dalam proposal, dijelaskan bahwa deskripsi sistem kontrol berbasis sistem akuisisi data dari hasil kajian dan pemilihan sistem kontrol tadi sebagai berikut.

  • Menggunakan Mikroprosesor
  • Mengukur suhu di dalam rumah kaca
  • Mengukur kelembaban di dalam rumah kaca
  • Mengendalikan pengkondisi udara
  • Mengendalikan exhauster fan

Setelah mendapatkan approval, dilanjutkan dengan membuat daftarhardware-nya yang dibutuhkan berdasarkan deskripsi tadi.

Spesifikasi Hardware

  • Push Button NO
  • Push Button NC
  • Sistem Minimum dengan Mikroprosesor 8088
  • Sensor suhu untuk instrumentasi suhu
  • Sensor kelembaban relatif instrumentasi kelembaban
  • Relay NO
  • Relay NO

Sistem akuisisi data dewasa ini bisa diperoleh dalam bentuk modul.

Modul Sistem Akuisisi Data biasanya terintegrasi dalam sebuah single chip berbentuk integrated circuit (IC). Setiap modul sistem akuisisi data ini berisi sebuah analog input stage (AIS) dan sebuah A/D Converter 12-bit yang terpisah.

Pada gambar di atas, terlihat diagram blok sistem akuisisi data dalam bentuk single chip (AD363/AD364) produk Analog Devices. Di dalam diagram blok nampak AIS, sebuah multiplekser 16-kanal, sebuah diffrential amplifier, dan sebuah rangkaian S/H yang terintegrasi dalam sebuah hybrid IC.

Awalnya, kanal yang dipilih oleh sebuah alamat yang dikirim oleh komputer eksternal atau kontroler; alamat itu terkunci (latched) dalam internal address register dalam AIS. Sinyal dari kanal yang terpilih itu kemudian dipasang pada rangkaian sample-and-hold yang dikendalikan oleh A/D Converte.

Rangkaian S/H itu biasanya memerlukan 10 mikrosekon untuk mengambil sebuah sinyal input dengan akurasi yang cukup untuk sebuah 12-bit conversion. Keseluuruhan istem dapat berfungsi pada 125 kHz.

Sistem akuisisi data berbasis komputer yang berkemampuan mengakuisisi data kualitas tinggi yang dapat ditambahkan pada sebuah komputer personal yang ada di pasaran dengan harga yang relatif rendah.

Penyimpanan dan pengolahan data dapat disederhanakan dengan komputer. Akibatnya komputer menjadi terikat untuk tugas-tugas akuisisi data saja dan tidak bisa untuk fungsi lainnya. Solusi yang lebih baik untuk membuat yang dinamakan dedicated data-acquisition system.

Sistem akuisisi data serba guna yang dibuat oleh manufaktur biasanya sebagai stand-alone system. Misalnya μMAC-1060 dari Analog Devices, sebuah modul sistem akuisisi data yang fleksibel terdiri dari machine monitoring and control, remote data acquisition, dan fitur yang lain.

Sumber: APPPLIED ELECTRONIC AND INSTRUMENTATION

Sistem Akuisisi Data Dalam Bentuk Single Chip yang lain adalah IC MAX180/MAX181 produk dari Maximintegrated.

IC ini merupakan sistem akuisisi data 12-bit yang lengkap terdiri dari multiplekser dengan 8/6 kanal input, high bandwidth Track-and-Hold (T/H), low-drift zener reference, dan flexible micropocessor interface with high conversion speed and low power consumption.

IC MAX180/MAX181 dapat dikonfigurasikan dengan mikroprosesor untuk konversi unipolar atau konversi bipolar dengan input yang single ended atau yang difrensial. Kedua divais itu melakukan sampling dan digitasi dengan throughput rate 100 kHZ dan fitur microprocessor interface dengan kecepatan 8-bit atau 16-bit.

IC ini cocok untuk antara lain: High-Speed Servo loops, Digital-Signal Processing, High-Accuracy Process Control, Automatic Testing Systems.

Sources :

  1. William D. Cooper, ELECTRONIC INSTRUMENTATION AND MEASUREMENT TECHNIQUE, Prentice Hallof India, 1978
  2. William D. Cooper, INSTRUMENTASI ELEKTRONIK TEKNIK PENGUKURAN, Penerbit Erlangga, 1985
  3. Larry D. Jones & Foster Chin, ELECTRONIC INSTRUMENTS AND MEASURENTS, Prentice-Hall International 1991
  4. Joseph J. Carr, SENSOR AND CIRCUIT, Prentice-Hall Inc. 1993
  5. J, Michael Jacob, INDUSTRIAL CONTROL ELECTRONICS, Prentice-Hall Inc. 1986
  6. ThimothyJ. Maloney, INDUSTRIAL SOLIDSTATE ELECTRONICS, Prentice-Hall Inc, 1986
  7. David Buchla & Wayne McLachlan, APPLIED ELECTRONIC INSTRUMENTATION AND MEASUREMENT, Macmillan Publishing Company, 1992`

Sistem Digital pada VLSI Fabrikasi Integrated Circuit (IC)

VLSI sebagai Digital System

Very-large-scale-integration (VLSI) merupakan sebuah proses pembuatan sebuah Integrated Circuit (IC) dengan mengkombinasikan ribuan transistor ke dalam satu chip tunggal. VLSI mulai dikembangkan sejak dekade 1970-an saat semikonduktor kompleks dan teknologi komunikasi juga dikembangkan pada saat yang sama, dimana mikroprosesor itu sendiri merupakan perangkat VLSI. Sebelum adanya teknologi VLSI, kebanyakan IC memiliki fungsi yang terbatas. Sebuah Sirkuit elektronik biasanya terdiri dari CPU, ROM, RAM , VLSI membuat perancang IC bisa menggabungkan semuanya dalam satu Chip. Industri elektronik sendiri telah tumbuh sangat cepat dalam dekade belakanagan ini, utamanya dikarenakan perkembangan yang cepat  pada teknik integrasi dan perancangan sistem berskala besar. Dengan berkembangnya teknologi VLSI, jumlah dari aplikasi IC pada komputasi, kontrol, telekomunikasi, pemrosesan video dan gamabar hingga elektronik konsumen berperforma tinggi meningkat pada laju yang cepat. Teknologi cutting-edge belakangan ini seperti video dengan resolusi yang tinggi dan bit-rate yang rendah, dan komunikasi seluler memberikan pengguna akkhir sejumlah besar aplikasi, kemampuan pemrosesan, dan protabilitas,. Tren ini akan terus berlanjut dengan implkasi penting pada desain VLSI dan sistem.

Aliran Desain VLSI

Aliran Desain sirkuit IC VLSI bisa dilihat pada gambar dibawah ini, dimana berbagai tingkatan dari desain diberi nomor dan blok menunjukkan proses dalam aliran desain. Spesifikasi muncul pertama kali, yang mendeskripsikan secara abstrak fungsionalitas, interface, dan arsitektur dari sirkuit IC digital yang akan dirancang.

fffffff

Selanjutnya deskripsi perilaku dibuat untuk menganalisa desain fungsionalitas, performa, kepatuhan pada standar, dan spesifikasi lainnya.  Deskripsi pada Register Transfer Level (RTL) dilakukan menggunakan Hardware Description Language (HDL). Deskripsi RTL ini disimulasikan untuk menguji fungsionalitas, dan dari sini selanjutnya akan membutuhkan bantuan Electronic Design Automation (EDA). Kemudian deskripsi RTL akan dikonversikan menjadi gate-level netlist menggunakan perangkat sintesis logika. GAte-level netlist sendiri merupakan deskripsi dari sirkuit dimana terdapat didalamnya gerbang-gerbang dan koneksi-koneksi diantara mereka yang dibuat dalam cara tertentu akan bertemu pada waktu, daya, dan spesifikasi area yang tepat. Hingga ada akhirnya, tampilan fisik dibuat dimana akan diverifikasi dan dikirimkan ke fabrikasi.

Y-Chart

Gajski-Kuhn Y-Chart adalah sebuah model yang menangkap konsiderasi saat menrancang perangkat semikonduktor. Tiga domain pada Y-Chart Gajski Kuhn ada pada poros aksial. Setiap domain bisa dibagi menjadi tiga tingkatan abstraksi menggunakan lingkaran konsentris. Pada level teratas (lingkat terluar), kita mempertimbangkan arsitektur dari chip, pada levek bahwa (lingkaran dalam) kita kemudian menyempurnakan desain menjadi implementasi yang lebih rinci. Menciptakan deskripsi struktural dari sebuah perilaku bisa didapat melalui proses sintesis tingkat tinggi dari  sintesa logika. Menciptakan deskripsi fisik dari bentuk struktural didapat melalui sintesis layout.

hhhhhhhhh

Struktur Hierarki Desain

Hierarki desain mencakup apa yang disebut dengan prinsip “Divide and Conquer” yaitu mebagi banyak tugas menjadi tugas-tugas yang lebih kecil hingga mencapai level yang paling sederhana. Proses ini paling tepat karena desain evolusi yang terakhir adalah yang paling sederhana sehingga proses manufaktur menjadi lebih mudah. Kita bisa merncang tugas-tugas (tasks) ke dalam domain aliran desain proses (Behavioural, Struktural, dan Geometris). Untuk memahami hal tersebut bisa dilihat proses perancangan 16-bit adder pada gambar dibawah ini :

vcvdddfdfe.jpg

Pada gambar diatas, chip 16-bit adder dibagi menjadi empat modul dari 4-bit adder, alu dibagi lagi menjadi 1-bit adder dan setengah adder. 1 bit additon adalah proses desain yang paling sederhana dan sirukit internalnya juga lebih mudah untuk difabrikasi pada chip. AKhirnya kita bisa menambhkan empat adder dengan mengkoneksikannya kita bisa mendesain 4-bit adder dan bergerak menuju 16-bit adder.

dfgdgdgdg

Source :

  1. VLSI Design Tutorials (2015) Tutorials point (I) Pvt. Ltd

Let’s meet the artist : Scarlet Pleasure !

Mostly temen-temen semua hampir tidak mengenal Band yang satu ini.  Scarlet Pleasure adalah band yang bisa dibilang cukup unik karena menempatkan genre pada posisi abu-abu. Pada beberapa lagunya , mereka cenderung memasukkan unsur R&B, Soul, Funk,dan Pop pada ritme lagunya. Band asal Denmark ini terdiri atas tiga personel yaitu Emil Goll sebagai Lead vocal, Alexander Malone sebagai Bassist, dan Joachim Dencker sebagai drummer. Album pertama mereka diluncurkan belum terlalu lama di Amerika Serikat. Albumnya yaitu Mirage dirilis tanggal 22 September 2014 dan bertengger pada Tracklisten, sebuah Chart yang cukup bergengsi bagi musisi di Denmark. Singlenya yaitu Windy dirilis sebelumnya bulan February 2014 dan dipilih sebagai Music of the Week. Band ini sendiri berinduk pada labelnya Copenhagen Record.

5.jpg

Emil Goll, Alexander Malone dan Joachim Dencker pertama kali bermain bersama saat meng-cover lagunya Red Hot Chilli Pepper. Tapi setelah mereka bertiga melakukan perjalanan ke Amerika Serikat, mencoba meyakinkan pasar disana tentang kualitas lagunya, band ini menemukan niche dalam pasar Amerika, dimana pop funky dan soul bisa mengingatkan penikmat musik disana pada musik-musik lawas Stevie Wonder dan Michael Jackson di masa lalu.

Ada beberapa singlenya yang mulai menapaki tangga lagu dan mendapat jutaan view di youtube sebut saja misalnya Wanna Kno, Heat, Casual dan The Strip. Scarlet Pleasure merupakan tipikal band yang paham bagaimana memainkan instrumen yang memberikan excitement pada audiens. Kini mereka bisa dengan mudah menciptakan crowd yang besar pada tiap stage di Denmark, dan mulai bermain pada venue-venue bergengsi misalnya Roskilde Festival di Denmark.

Saya sendiri sangat menyukai salah satu lagu Scarlet Pelasure yang saya ulang berulang kali saat perjalanan di mobil, contohnya The Strip, kalian juga pasti bakal enjoy mendengarkannya. Berikut videonya di youtube , Happy Listening !

 

Scarlet Pleasure – The Trip

Hey girl, won’t you let me in?
Won’t you let me in to you?
For a little while and if you lead me on the way.

Promise I’ll be good.
‘Cause you’re my armageddon babe
And you know it ain’t the same
whenever you’re not around
I need something profound
I keep cruising in the deep
I keep waiting in my sleep
It ain’t the same, baby

A rush of blood
As we’re riding past glittery neon signs on the strip
And the rocks on your neck are shining in the car
I’ll take you to the moon
Go get the gravity boots
Let’s dance in the ocean waves, yeah
Go plaided bathing suites, my love
I’lll take you to the moon

I’ve got this thing spinning in my mind
Flashing before my eyes
Like a super aid
Projected on the walls
But the sound’s all clear
Girl, you’re glamerous tonight
And all palms and purple light
Underneath the chandeliers
Underneath those pretty tears
And I swim in solitude
Let’s get lost in Hollywood
It ain’t too late, baby

A rush of blood
As we’re riding past glittery neon signs on the Strip
And the rocks* on your neck are shining in the car
I’ll take you to the moon
Go get the gravity boots
Let’s dance in the ocean waves, yeah
Go plaided bathing suites, my love
I’lll take you to the moon

I’ll take you to the moon
Go get the gravity boots
Let’s dance in the ocean waves, yeah
Go plaided bathing suites, my love
I’lll take you to the moon

Source :

  1. https://www.musixmatch.com/lyrics/Scarlet-Pleasure/The-Strip

Mengenal Synthesizer dan proses bekerjanya

Ketika kita berpikir tentang synthesizer, sulit untuk meduga-duganya. Kita mungkin berpikir tentang soundtrack 8-bit video game dan lagu-lagu pop mustahil catchy dari tahun 1980-an. Kita mungkin berpikir tentang orkestra digital yang berasal dari keyboard. Kita membayangkan tombol-tombol dan cepat dan kabel berserakan tentang. Kita bahkan mungkin berpikir dari program perangkat lunak kita mengontrol dengan keyboard komputer kita.

Apa pun yang kita bayangkan, dalam hampir 50 tahun sejak debut synthesizer komersial pertama, dampaknya mungkin telah pergi lebih dalam daripada kita sadari. Suara yang dihasilkan oleh synthesizer adalah bagian dari musik yang memantul di sekitar gendang telinga kita : musik pop, hip hop, film skor, bahkan rock and roll.  Dr Tom Rhea, seorang profesor di Produksi Elektronik dan Desain Departemen di Berklee College of Music, mengatakan bahwa synthesizer telah menawarkan kontribusi yang sangat signifikan terhadap cara musik dimainkan di luar suara yang mereka buat: Form tidak lagi harus mengikuti fungsi . instrumen akustik seperti gitar, simbal, dan klarinet harus dibangun dengan cara tertentu untuk mendapatkan suara yang sangat khusus.

synthesizer-1.jpg

Dengan kata lain, synthesizer dapat membuat lebih dari satu jenis suara. Hal ini dapat membuat nada yang akrab dan dunia lain misalnya suara seruling, suara sebuah ombal atau suara pistol alien serta suara-suara lain tang tidak pernah kita dengar di dunia nyata. Synthesizer mencapai tujuan ini dengan memanipulasi dan menggabungkan kualitas dasar suara untuk menciptakan sesuatu yang baru. Berlawanan dengan kesalahpahaman pada umumnya, kata “synthesizer” tidak dimaksudkan untuk menyiratkan bahwa suara yang dihasilkan oleh perangkat sintetis. Sebaliknya, mengacu pada sintesa,yaitu proses menggabungkan berbagai elemen konstituen – dalam hal ini, sifat-sifat dasar dari suara – dengan cara yang membentuk keseluruhan baru.

Sementara itu, mari kita sisihkan kesalahpahaman lain: Synthesizer bukanlah kotak voodoo yang mengeluarkan musik tanpa inpur apapun. Synthesizer hanyalah instrumen lain yang membutuhkan seseorang yang mengontrolnya untuk membuat musik.

Apa saja komponen dasar dari sebuah suara, dan bagaimana synthesizer mengubahnya? Mari lihat.

Melakukan Sintesis elemen-elemen dari suara

Ketika kita mengatakan bahwa synthesizer memanipulasi elemen dasar dari sebuah suara, seperti apa peristiwa yang sebenarnya terjadi ?

Pertama, berikut adalah beberapa dasar-dasar yang utama. Sebuah suara adalah hasil dari perubahan tekanan udara sebagai energi perjalanan dari sumber suara menuju telinga kita. Telinga manusia dapat memproses suara dalam rentang frekuensi dari 20 sampai 20.000 hertz, dan kita merasakan setiap suara memiliki pitch , timbre (atau kualitas tonal) dan kenyaringan yang berbeda. Bahkan jika dua instrumen bermain musik yang sama, karakteristik terukur dari setiap suara seperti frekuensi (jumlah pengulangan dari gelombang dalam satu detik), amplitudo (volume, atau perubahan tekanan udara), panjang gelombang (jarak antara siklus dari gelombang) dan periode (waktu yang dibutuhkan untuk gelombang untuk mengulangi siklus penuh)  dapat bervariasi secara dramatis. Kedengarannya juga mengandung harmonik, atau lapisan frekuensi yang tergabung untuk membuat suara penuh yang kompleks. Ada perubahan volume yang terjadi selama suara itu menggema.

Kita telah menyebutkan sebelumnya bahwa kata synthesizer berasal dari “sintesis.” Ada banyak jenis sintesis, tapi mari kita bicara tentang proses sintesis subtraktif, salah satu bentuk yang paling umum digunakan saat membuat suara dengan synthesizer. Singkatnya, seorang musisi memulainya dengan gelombang – suara yang berisi semua karakteristik yang disebutkan di atas  dan mengurangi komponen sampai nada yang diinginkan tercapai. musisi dapat menyesuaikan pengaturan dari synthesizer untuk mengupas dan mensunyikan frekuensi tertentu, atau menekankan dan meningkatkan frekuensi tersebut. Pada akhirnya, sintesis subtraktif dapat mengubah gelombang awal menjadi banyak suara yang berbeda. Setelah keluar dari synthesizer, suara dapat memiliki kualitas mirip dengan terompet, snare drum, sebuah deru atmosfer atau suara apa pun. (Kecuali suara sampler yaitu alat elektronik yang mencatat dan memproses potongan suara akustik yang dihasilkan, tidak ada versi sintesis dari instrumen dunia nyata akan bisa menirunya.)

Sekarang kita tahu tentang bagaimana synthesizer memanipulasi suara, mari kita lihat komponen dari synthesizer.

Komponen Synthesizer

Meskipun banyak synthesizer memiliki bentuk seperti keyboard piano, bagian mesin  chassis dilapisi dengan tombol-tombol, dials dan switch  tampak lebih seperti alat yang ada dalam garasi bukannya di ruang konser. Meskipun demikian, synthesizer mengandung dua komponen yang sama seperti hampir semua instrumen lain: generator dan resonator. Bbiola, misalnya: string dan haluannya adalah generator, dan tubuh biola adalah resonator . Pada synthesizer, generator adalah osilator, dan resonator adalah filter.

synthesizer-2.jpg

Sebagai permulaan, mari kita lihat pada bagian dasar dari synthesizer analog klasik. (Kita akan berbicara tentang synthesizer digital setelahnya.) Analog synthesizer menghasilkan suara dengan memanipulasi tegangan listrik. Osilator membentuk tegangan untuk menghasilkan pitch stabil pada frekuensi tertentu, yang menentukan bentuk gelombang dasar yang akan diproses di tempat lain di synthesizer. Osilator dapat dikontrol oleh tombol serupa dengan keyboard piano, revolving pitch wheel atau alat lain pada antarmuka synthesizer ini. osilator memberi sinyal ke filter, dan penggunanya menekan tombol-tombol dan dials untuk mengatur parameter frekuensi suara  misalnya, menghilangkan dan menekankan frekuensi tertentu seperti yang kita bicarakan sebelumnya. Suara yang keluar dari filter ke amplifier, yang mengontrol volume suara. amplifier umumnya termasuk serangkaian envelope controls, yang membantu menentukan nuance dalam tingkat volume .

Dalam sebuah synthesizer analog, masing-masing fungsi pitch, nada warna dan kenyaringan ini diatur dalam modul, atau unit yang dimaksudkan untuk tujuan khusus. Setiap modul menciptakan sinyal tertentu, atau proses  dengan cara tertentu, dan dengan menghubungkan modul ini bersama-sama, penggunanya bisa melapisi , memproses dan mengubah suara menjadi sesuatu yang berbeda.

Sources

  1. Apple, Inc. “How Subtractive Synthesizers Work.” 2009. (May 16, 2012) http://documentation.apple.com/en/logicexpress/instruments/index.html#chapter=A%26section=3%26tasks=true
  2. Apple, Inc. “Other Synthesis Methods.” 2009 (May 16, 2012) http://documentation.apple.com/en/logicexpress/instruments/index.html#chapter=A%26section=4
  3. Apple, Inc. “Sound Basics.” 2009. (May 16, 2012) http://documentation.apple.com/en/logicexpress/instruments/index.html#chapter=A%26section=1%26hash=apple_ref:doc:uid:TempBookID-ReplacedWhenAssociatingWithMessierRevision-43982SYN_SC_0908-1003284
  4. Apple, Inc. “What is a Synthesizer?” 2009. (May 16, 2012) http://documentation.apple.com/en/logicexpress/instruments/index.html#chapter=A%26section=2
  5. Jenkins, Mark. “Analog Synthesizers: Understanding, Performing, Buying.” Focal Press. 2007.